PLAGIAT


Plagiat!!!, apa sih makna kata dari plagiat itu?... saya sama sekali tak menganalisa kata itu dalam bentuk ilmiah. Saya sendiri seperti dikatakan oleh ketua AGUPENA NTT (Asosiasi Guru Penulis Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur) Bapak Thomas Akaraya Sogen, S.Pd., MBA, dalam Endorsement buku perdana saya, “Guru adalah Inspirasi Serial Pelita Kampung Beta Jejak Juang Guru Desa di NTT.”

“..... Sebagai seorang pembimbing dalam penulisan publikasi ilmiah guru, saya mengenal Ibu Lilis – penulis buku ini dengan sangat baik. Meskipun kemampuan menulis hal-hal ilmiah tidaklah istimewa, namun hal itu justru terbalik jika menulis tema-tema bebas. Menulis pengalaman pribadi baik dalam bertugas maupun kehidupan keseharian lebih mengalir bak air seperti yang terbaca dalam beberapa bagian isi buku ini...”

Nah karena itulah saya tak mengupas tuntas tentang Plagiat dalam bahasa ilmiah, dan bahasa hukum yang ada. Tetapi saya mencoba menuliskan dengan bahasa kalbu yang saya pernah mengalaminya dalam hidup saya. Rasa itu, sakit hingga kini tak berujung!!!, saya berusaha ikhlas dan meng-ikhlaskannya untuk sebuah kebaiakan diri saya sendiri. Sebab jika rasa sakit itu saya pelihara dalam diri saya, maka kerugian itu akan berdampak pada kesehatan kita, juga diri kita sendiri.

Mari coba kita merenungkan apa yang kita perbuat dalam dunia ini semua akan kita pertanggung jawabkan di akherat kelak. Kita pertanggungjawabkan ketika kita mati nanti di hadapan Tuhan kita. Jangan berpikir bahwa dengan kita mencuri ide orang lain, akan membawa kebanggaan pada diri kita, bahwa kita orang hebat !!!, dengan ide hebat pula. Padahal hebat yang dia punya hasil dari mencuri ide orang lain. Itulah plagiat menurut saya.

Plagiat bukan hanya merugikan orang lain (yang idenya kita curi), tetapi juga merugikan diri kita sendiri. Why?... Kok diri kita juga yang rugi?... Ya iyalah, masak ya iya doong?... Ha ha ha... tenang bro and sis!. Mari kita kupas tuntas kerugian pada diri kita hasil dari plagiat itu. Sudah siap menyimaknya?..., Jika belum siap, yuuk minum kopi hitam dulu. Kopi hitam sangat nikmat untuk kita nikmati sambil membaca tulisan ibu guru cantik ini, guru inspirasi dari Nusa Tenggara Timur Indonesia.

Okey, kita menikmati kopi hitam dulu yaa..., Yuuuk... Kafein yang terkandung di kopi hitam dapat memacu metabolisme tubuh sehingga akan membantu proses pembakaran lemak. Selain dengan meningkatkan pembakaran lemak, kopi hitam juga dapat membantu proses penurunan berat badan dengan mengurangi nafsu makan.

Nah!, dengan mengurangi nafsu makan, maka nafsu membaca tulisan ibu guru cantik ini akan meningkat tajam, setajam silet kepekaan kita pada sesama!!!. Yang akan berdampak untuk lebih bisa menghargai hasil karya orang lain!. Dan tidak menjadi plagiat lagi, semoga!!!. Dari mana ya tadi?..., kok jadi muter-muter tulisannya Bunda ya?. Ha ha ha . . .

Ok ingat sekarang, plagiat itu sangat merugikan diri kita sendiri, karena hasil dari tulisan orang lain itu tidak sama ruh-nya dengan apa yang ditulis oleh orang yang memiliki karya tulis itu. Setidaknya saya menulis itu selalu dari hati saya, dengan suasana hati yang menyertai tangan saya dan melibatkan suasana hati saya, emosi saya ketika menulis. Tulisan apapun, yang saya tulis selalu ada emosi hati dalam bahasa kerennya “bahasa kalbu” itu terlibat dalam karya kita.

Juga doa saya kepada Allah ketika saya pertama membuka laptop saya. Dan ini tidak gratis saya dapatkan, saya dapatkan ini dari saya membaca buku, dan buku itu saya beli. Saya suka heran, seorang penulis tapi malas membaca apalagi membeli buku. Padahal dalam buku itu ada banyak ilmu.

Contoh kecil saja, buku yang saya beli dengan cover “Panduan Menulis True Story”. Mengilhami semua tulisan saya, setelah saya membacanya hingga qatam. Pada tulisan di atas, yang menjelasan tentang tulisan itu selalu melibatkan hati kita. Dalam buku itu dijelaskan dengan terperinci dengan judul “Tulislah kisahmu dengan emosi, Hati, dan Segenap Perasaan” yang di tulis oleh Sayyidatina Az-Zahra.

Dalam tulisan Sayyidatina Az-Zahra di jelaskan pada halaman 155 s.d 158, pentingnya menulis dengan hati itu yaitu dapat mempercantik tulisan, ketulusan tulisan akan dirasakan oleh pembaca, tulisan kita akan terbaca dengan lembut, pembaca ketagihan dengan tulisan kita. Itu gambaran penting menulis dengan hati. Bayangkan ketika tulisan teman, sahabat, serta siapapun yang kamu curi (plagiat) idenya. Maka ruh dalam tulisan itu tidak akan pernah sampai kepada pembacamu!!!.

Ketika tulisan itu baru kau buat, mungkin masih ingat. Tetapi lain cerita ketika sudah berlalu begitu lama, pasti akan hilang dari ingatan kita. Seperti tulisan bunda ini, ketika berpuluh tahun yang akan datang di tanyakan kepada bunda apa itu “plagiat” dalam blog nya Bunda?... Wah bunda akan bercerita bak air mengalir jauh kemana-mana.

Karena ada emosi, ada perasaan, ada hati yang terlibat didalam tulisan ini. Sangat mendalam, begitu dalam!!!, ketika menulis kisah ini. Hingga jika ditanyakan kepada Bunda, sedalam apa emosi dalam lautan hatinya bunda. Mari Bunda bisikin di telinga, pepatah mengatakan “dalamnya lautan bisa kita ukur, tetapi dalamnya hati seseorang kau tak akan pernah tahu”. Ha ha ha ha ha ha...

Itu pertama, anda sebagai pencuri ide orang. Hal selanjutnya adalah ketika ada undangan yang melibatkan tulisan itu, Anda akan merasa bahwa ini saya mencuri ide, dan akan menyampaikan hasil curian saya ke ranah publik. Jujur saja, suara kalbu kita akan mengatakan “hai pencuri kau tidak pantas ada disini!!!”.

Di negeri anta beranta, ada isitilah yang sangat tidak bagus bagi pencuri ide orang dan dikemas dalam cerita yang sangat meng-inspirasi kita semua, ibu guru cantik tak mau menuliskan kisah dari negeri anta beranta itu. Karena ada kisah yang lebih seru dari kisah itu, yaitu kisah dari negeri entah dimana, ada kisah nyata yang sangat tragis bagi pencuri ide itu. Mau tahu ceritanya?.... habiskna dulu kopi hitamnya, ha ha ha  . . .

Yuuuk, mulai ya... satu, dua, tiga... fokus lagi ya. Di negeri entah dimana, ada seorang penagawas berasal dari guru. Guru SMP Negeri yang naik pangkat dengan cara siluman, mengapa dengan cara siluman?. Sebab tidak ada bukti fisik yang menyertai, bahwa kegiatan menulis PTK (Penelitian Tindakan Kelas), itu dilakukan di sekolah tersebut.

Tiba-tiba munculah SK (Surat Keputusan) naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi secara berombongan. Romobongan dengan kepala sekolahnya juga. Oh My God ?... Negeri entah dimana, ternyata masih ada di mana-mana!!!. Hingga tulisan ini mendunia, perbuatan jelek itu masih merajalela di negeri entah dimana itu. Sungguh hal ini membuat gundah gulana pada orang-orang yang bekerja keras dan jujur dalam bekerja.

Jreng... Jreng.... Jreng..... Tibalah sekolah binaannya mengadakan seminar PTK (Penelitian Tindakan Kelas), mengundang wartawan, dan kepala dinas juga ada. Kepala Dinasnya di wawancara oleh wartawan juga. Dicarilah pengawas pembinanya oleh wartawan tersebut. Ternyata pengawas pembinanya tak ada di tempat. “Apakah Pengawas pembina tidak diundang Pak?...” Tanya kepala dinas kepada kepala sekolah ganteng itu.

Kepala sekolah menyampaikan kepada kepala dinasnya, dengan menunduk sangat sopan sekali. Lebih sopan kepala sekolah ganteng ini dari pada orang Jepang dengan budayanya menunduk jika berjumpa teman atau sahabatnya di jalan. “Sudah kami hubungi via telepon, janjian dikantor dan saya sudah bertemu sambil menyerahkan surat tertulis kepada beliau Bapak.” Begitu jawab kepala sekolah ganteng ini kepada kepala dinasnya.



Berbeda dengan budaya barat, dimana jabat tangan adalah sapaan yang umum, orang Jepang tidak menyentuh orang yang tidak dikenalnya, sehingga jabat tangan tidaklah disarankan. Membungkuk (atau dikenal dengan ‘ojigi’) merupakan hal formal yang umum di Jepang. Pria dan wanita melakukan ‘ojigi’ dengan cara berbeda: pria meletakkan tangan di samping paha sambil membungkuk, sementara wanita meletakkan tangan di atas paha sewaktu membungkuk.


Nah lhooo, negeri entah dimana itu gonjang-ganjing. Pengawasnya tidak mampu tampil di forum ilmiah. Karena apa?...., karena naik pangkatnya menggunakan cara siluman, bersama sahabatnya nona cantik bernama rupiah dan sahabat yang lainnya bernama berjuta-juta ria. Anda tahu bagaimana forum ilmiah itu tetap berjalan? . . . Seru !, sungguh seru !!!. Meskipun tanpa kehadiran pengawas pembinanya.

Ada pembelajaran bermakna pada kejadian ini yang ibu guru cantik akan kupas tuntas di sini, tentang dampak kedepan pada para plagiat atau pencuri ide itu. Agar segera bertobat!!!. Minimal tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang tidak terpuji itu.

Dalam seminar itu banyak guru tertegun dan terkesima dengan ulasan narasumber ahli yang mengatakan dengan tegas. Bahwa naik pangkat sesuai Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010, Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Pada halaman 46 dijelaskan bahwa : “Macam Publikasi Ilmiah yang wajib ada (Minimal satu Publikasi)” Bagi guru golongan III/b ke III/c keatas dilakukan dengan cara menulis, intinya itu dulu. MENULIS!.

Menulis yang bagaimana?,  Dijelaskan dalam permendikbud tersebut bahwa yang ditulis pada pangkat dan golongan III/b ke III/c adalah Bebas pada jenis karya tulis publikasi ilmiah dan inovatif. Jumlah angka kredit dan sub unsur publikasi ilmiah dan atau karya tulis inovatifnya harus minimal berjumlah 4. Sedangkan untuk pangkat dan golongan III/c ke III/d jumlah angka kreditnya minimal 6. Untuk pangkat III/d ke IV/a jumlah angka kreditnya 8, dan makalahnya hasil penelitian, yang biasa disebut PTK (Penelitian Tindakan Kelas).

Dari pangkat dan golongan IV/a ke IV/b, jumlah angka kreditnya harus 12. Makalahnya hasil penelitian, yang biasa disebut PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Harus di pertanggung jawabkan (Di seminarkan dengan peserta minimal dihadiri oleh 15 guru serumpun dan dari tiga sekolah yang berbeda). Serta wajib masuk dalam Jurnal Ilmiah. Jelas sekali tulisan itu tertera pada salinan Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010, Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Karena alasan ini masih banyak guru di negeri entah dimana, yang bertahan di pangkat dan golongan IV/a, bahkan sangat banyak. Karena tidak bisa menulis tadi, serta banyak pula yang naik pangkat dengan membawa sahabat-sahabatnya bernama siluman, rupiah, dan berjuta-juta ria, termasuk dalam rombongan itu plagiatisme nan cantik jelita.

Hal ini dijelaskan dampaknya bagi kehidupan kita kedepan oleh narasumber yang super jenius itu. Narasumber ilmiah dalam forum seminar PTK dan PTS itu alumni Universitas ternama di Jawa yang sangat bagus kualitasnya.

Kata beliau mengutip kata bijak, “Mereka yang melanggar ketentuan dan peraturan akan dianggap sampah. Tapi, mereka yang meninggalkan teman mereka lebih rendah dari sampah.” (uchiha obito). Dan kata bijak yang lainnya lagi, “Jika kamu tak mampu menghargai dirimu sendiri, tak ada orang yang mampu menghargaimu. Terima dirimu apa adanya dan jadilah dirimu sendiri.”

Awal pertama beliau berkata, ibu guru cantik belum paham apa makna dari kata-kata bijak tersebut diatas. Maklumlah, ibu guru cantik hanya guru desa yang minim pengetahuannya. Tetapi setelah dijelaskan panjang lebar, barulah ibu guru cantik paham makna kalimat kata bijak diatas.

“Mereka yang melanggar ketentuan dan peraturan akan dianggap sampah. Tapi, mereka yang meninggalkan teman mereka lebih rendah dari sampah.” (uchiha obito). Sudah tahu itu milik temannya, milik sahabatnya masih juga di curi idenya. Dicuri untuk kepentingan diri sendiri. Dan mengorbankan perasaan temannya itu, hal yang kedua apa yang telah dilakaukannya itu telah melanggar ketentuan dan juga peraturan.

Orang seperti itu, bukan hanya sampah masyarakat, tetapi sampah dalam kehidupannya sendiri juga keluaganya. Coba ibu bapak bayangkan, jangan berpikir akibat dari naik pangkat ibu bapak kejenjang berikutnya, akan berhenti sampai disitu. Tetapi semua itu, akan diikuti oleh kenaikan gaji ibu dan bapak sekalian. Sudah otmatis itu!!!.

Sebab dokumen plagiat PTK dan foto-foto dokumentasi yang abal-abal itu akan melengkapi dokumen DUPAK (Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit) ibu bapak guru untuk naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini akan diikuti dengan penghasilan kita yang naik secara berkala, hingga kita berkalang tanah pula.

Bayangkan saja, yang sedikit sa juu... (Yang sedikit saja itu) translate bahasa di negeri entah dimana. Kedepan akan terus mengikuti pada orang-orang yang tak sadar diri itu. “Ikut sampai dimana?...” kata narasumber itu lagi dengan nada tanya yang tak perlu dijawab, dan beliau melanjutkan motivasinya kepada kami guru desa, yang ada ibu guru cantik sebagai pesertanya. 

Ibu dan bapak sekalian, penghasilan dari jerih payah kita berusahalah untuk mendapatkan dengan cara yang baik dan halal. Sebab, hal ini akan kita bawa kepada keluarga kita, anak-anak kita. Hingga kita meninggal nanti, yang sedikit sa juuu... terus mengikutinya. Apakah ibu bapak tak takut dengan siksa kubur ketika hal ini ditanyakan oleh Tuhan kita kelak?....

Sampai disini, ibu guru cantik paham dan mengerti kata-kata bijak itu, hal lain yang narasumber jelaskan lagi yaitu, “Jika kamu tak mampu menghargai dirimu sendiri, tak ada orang yang mampu menghargaimu. Terima dirimu apa adanya dan jadilah dirimu sendiri.” Ibu bapak sahabat guru sekalian, tidak ada yang sulit dalam hidup ini, tidak ada orang bodoh dalam hidup ini. Yang ada adalah kita tak mau berusaha dan tak mau belajar!.

Jika kita mau berusaha dan mau belajar pastilah kita bisa, cara untuk menghargai dirimu sendiri adalah dengan berusaha berbuat kebaikan meskipun kebaikan itu hanya sebesar biji sawi. Jika engkau tak mampu berbuat kebaikan untuk dirimu sendiri, jangan pernah bermimpi orang lain akan menghargaimu. Untuk diri sendiri  saja tak mau berbuat baik, bagimana orang lain akan melakukan kebaikan itu untukmu?....

“Belajarlah menerima dirimu apa adanya, dan jadilah dirimu sendiri!!!.” Tak ada manusia yang sempurna ibu bapak sekalian. Kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan, yakin dan percaya ketika kita berusaha, dan mau belajar. Kita pasti bisa !. Contoh kecil kita terhadap peserta didik kita di sekolah. Dari mereka tak bisa apa-apa, sampai mereka cerdas menjadi manusia, itu karena mereka berusaha dan belajar. Kalau mereka bisa mengapa kita tidak bisa?...

Kata-kata bijak narasumber dalam seminar ilmiah di desa entah dimana itu menghujam tajam kedalam sanubari ibu guru cantik. Dan menjadi landasan berpijak dalam berbuat kebaikan kepada sesama, juga memacu pribadinya untuk mau belajar sepanjang hayat. Seperti kata narasumber nasional idolanya dari Universitas ternama di kota dingin Jawa Timur. “Berani memilih profesi menjadi guru, harus berani belajar sepanjang hayat.”

Melalui tulisan ini, ibu guru cantik berpesan kepada ibu bapak yang telah terlanjur berbuat kesalahan di masa lalu. Mari kembali kejalan yang benar, sebab hidup bukan tentang seberapa besar kesalahanmu di masa lalu, tapi tentang bagaimana kamu memperbaiki diri dan kuat menjalani hari. Yuuup, sama-sama belajar menulis yang benar dan jangan menjadi plagiat lagi!. Kita bisa dan pasti bisa!!!.


Selesai di tulis, 20 April 2020
Namosain, 11.29.39 WITA
Kupang – Nusa Tenggara Timur
I N D O N E S I A





Komentar

  1. Waduh sakitnya tuh disini......
    Namun krn ada penghibur kopi Manggarai wah cup cup cup enak sekaleeee


    Tulisan bunda Cantik sangat berpengalaman dg KATA mencuri IDE
    Kerennn sakit hatinya....setajam siilet msh kurang tajam sepertinya

    Apa yaaakkk ohhh spt Virus CORONA, naudhubillahi Mindhalik, semua milik Allah dan akhirnya jg kembali pd Allah, maka segeralah bertaubat takut Corona mengintai

    BalasHapus
  2. Sabar... sabar... sabar...
    Banyak istigfar ya buu..., minum kopinya di temani kacang Sumba asyik tuh Bu.

    BalasHapus
  3. Saya suka kalimat terakhirnya "berani memilih profesi menjadi guru,harus berani belajar sepanjang hayat". Masih banyak guru yg belum memahami profesinya sehingga belajar belum menjadi utama...

    BalasHapus
  4. Salam literasi dari Mr.Bams
    mampir juga ya di penamrbams.id

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS BUKU SEMUDAH MEMBUAT CEPLOK TELUR

NGE-BLOG itu KEREN

HIKMAH DARI PLN PADAM