KEBERANIANKU HILANG TIBA-TIBA



Video karya teman tata usaha Pak Erens Nomleni

             Perjalananku hari ini Rabu, 03 Februari 2021 terganggu bukan karena hujan yang tak berhenti beberapa hari ini, tetapi jembatan kecil yang lubang dan roboh di terjang banjir dan melumpuhkan jalur lalu lintas kabupaten Kupang ke kota Kupang. Perjalananku setiap hari dari rumah ke sekolah berjarak tempuh 24,5 km dari tepi pantai Namosain hingga naik gunung di dataran tinggi padang sabana hutan tanaman industri desa Besmarak kabupaten Kupang pulang pergi menjadi 49 km.

            Perjalanan yang cukup jauh bagi wanita seusia saya setengah abad lebih satu tahun nanti tepat 11 Maret 2021. Perjalanan ke tempat tugas sebagai Aparatur Sipil Negara yang berprofesi sebagai guru desa di wilayah kerja pemerintah kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur yang memiliki banyak resiko dalam perjalan, membuat aku menjadi wanita tangguh luar biasa. Hari ini keberanianku tiba-tiba hilang karena jembatan penghubung itu roboh diterjang banjir.

            Dalam perjalanan menuju sekolah dalam keadaan hujan deras saya pacu sepeda motor tua saya dengan kecepatan sedang, saya tak berani lari kencang sebab jalanan sangat licin, dan hujan turun dengan lebatnya. Tiba-tida saya dihentikan masyarkat untuk berbelok menuju sungai kecil yang hendak kami lewati, ketika saya ikuti intruksi tersebut saya terkejut dengan excavator yang sedang masuk sungai membuat jalan untuk kami lewat.

Saya melihat sendiri excavator itu seperti binatang liar mematikan beberapa tanaman di sekitar sungai kecil, lalu excavator itu melepaskan rodanya satu untuk ditaruh rata di aliran sungai dan diinjak dengan belalainya yang panjang. Antara takut dan berani saya akan melewati sungai kecil yang airnya pengalir deras akibat guyuran hujan beberapa hari ini. Saya orang pertama yang diarahkan masuk sungai dan akan melewati sungai tersebut, saya melihat langsung material apa yang telah ditanam dalam aliran sungai tersebut agar kami para pengguna jalan bisa melewatinya.

 

 Gambar Excavator yang saya lihat bagai binatang buas memangsa tanaman dengan ganasnya. Sebelum jalan raya dibangun, lahan dibersihkan dahulu dari sampah maupun pepohonan kemudian diratakan. Untuk membersihkan lahan dan menggali maupun mengurug tanah.


Semua akan lewat sungai kecil ini, termasuk mobil ini juga.


                                             

Inilah pengalaman pertama dalam hidup saya yang telah berusia setengah abad lebih ini, melihat dari dekat cara kerja Excavator. Setelah semua selesai ternyata saya tidak berani lewat sungai itu, sementara kendaraan dibelakang menunggu antrian yang panjang. Bersyukur ada banyak mantan murid saya di sekitar jembatan rusak, mereka berteriak pada sekeliling saya “Om tolong ibu guru saya Bunda Lilis tidak berani lewat”. Ketika teriakan itu terdengar oleh semua orang di sekitar sungai, seperti ada pertolongan Allah melalui malaikat tak bersayap yang langsung mengambil sepeda motor saya.

“Bunda jalan kaki saja, motornya kasih saya, biar saya yang membawa ke seberang”, kata lelaki kekar yang saya tidak mengenalnya. Wah legaaa rasanya, seperti ada keajaiban dan pertolongan Allah yang luar biasa ada di sekeliling saya. Jujur saja, baru kali ini saya begitu takut mau menyeberang sungai kecil itu. Saya laju sepeda motorku dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai ke sekolah, sebab ada beberapa anak murid sedang menunggu saya di sekolah dan jalanan setelah sungai terputus itu sangat bagus sebab baru beberapa minggu lalu di perbaiki oleh dinas terkait.

Saya jalan menyusuri sungai kecil dan sepeda motor saya dibawa oleh malaikat tak bersayap yang dikirim Allah untuk menolong saya menyeberangi sungai kecil itu. Ternyata benar sungai kecil itu penuh batu karang yang masih tajam sebab baru ditanam dalam lumpur aliran sungai tersebut, seperti yang saya saksikan di pinggir sungai tadi. Cukup lama saya melihat kejadian tersebut, sehingga membuat saya takut untuk naik sepeda motor sampai keseberang.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah saya berpikir terus untuk pulang bersama teman lelaki, siapapun itu saya harus pulang sama-sama dan minta tolong untuk menyeberangkan sepeda motor saya. Tibalah waktu pulang sekolah, saya bergegas pulang ketika wakil kepala sekolah Bapak Ferdinandus Sulasi dan Pak Rofinus Polo pulang, saya mendadak juga berkemas pulang. Saya takut menyeberang sungai itu bersama sepeda motor saya.

Kami pulang bertiga beriringan, Pak Ferdi paling depan, Pak Rofinus tepat didepan saya, saya orang ketiga yang keluar dari sekolah beriringan. Sepanjang pejalanan pulang saya terus berdzikir "hasbunnallah wanimal wakil nikmal maula wanikman nasir", yang maknanya adalah “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik baik pelindung”. Dzikir inilah andalan saya jika saya menghadapi rasa takut dan gundah gulana dalam menghadapi rumitnya hidup serta rasa takut yang begitu dalam.

Sungguh diluar dugaan begitu sampai di lokasi jembatan yang roboh, saya tetap berada di urutan ketiga. Pertama menyeberang wakil kepala sekolah, Pak Rofinus Polo guru matematika, lalu saya, tiba-tiba rasa takut saya hilang. Ketika antri mau lewat saya pelajari teknik para pengendara sepeda motor satu persatu, lalu orang jalan satu persatu. Apakah yang saya amati?...

Saya mengamati cara mereka berjalan di aliran sungai, saya lihat dan saya bayangkan tadi pagi batu karang itu taruh di sebelah mana?... saya raba dengan logika dan akal pikiran saya ketika melihat excavator tadi menyusun batu dan menindas hingga layak untuk kami jalan menuju seberang. Tiba-tiba saya seperti melihat video tutorial di depan saya, bahwa saya harus lewat jalan yang tidak ada batu karangnya. Lalu . . .

Bismillah, saya melaju dengan penuh percaya diri melewati sungai kecil yang arusnya sempat membawa hanyut sandal pengendara sepeda motor di depan saya, dan ketika sandal tersebut akan diambil, ternyata arusnya deras. Akhirnya pemilik sandal mengikhlaskan sandalnya hanyut terbawa arus sungai kecil yang menggemaskan. Ha ha ha . . .

Saya tepat di belakang insiden sandal hanyut itu, dan terus berpikir menacari celah yang tidak terkena batu karang. Karena saya tahu dimana batu karang tadi di tanam, saya paham harus melewati jalur lumpur dicela-cela batu karang tersebut. Alhamdulillah . . . akhirnya sampai juga saya ke atas dengan selamat, sementara Pak Rofinus sudah turun dari kendaraan hendak kembali ke sungai membantu saya, tetapi didapati saya sudah ada di tepi jalan besar. Kami masih jalan beriringan dengan diguyur hujan lebat disertai angin kencang hingga masuk pada tugu perbatasan kota dan kabupaten Kupang.

Meskipun sudah melewati tugu batas kota dengan hujan deras mengiringi perjalanan kami bertiga. Saya akhirnya harus ngebut agar cepat sampai kota dan segera pulang ke rumah, dan menghangatkan tubuh lalu istirahat siang dengan berselimut tebal. Ha ha ha . . .  Bersama ini saya bagikan kepada pembaca blog saya bagaimana kondisi sungai kecil yang sempat membuat saya takut untuk melewatinya tadi pagi.

 

 



 

 

                                                                                                                        Namosain, 2 Februari 2021

                                                                                            Pukul, 23.00 WITA

 

 

 

Komentar

  1. Tetap semangat ya bu, doa kami menyertai perjungan ibu dlm mencerdaskan anak bangsa.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, Bunda setiap tantangan selalu ada kemudahan
    Karena niat ikhlas mencerdaskan generasi bangsa.

    BalasHapus
  3. alam menantang tapi janganlah pantang menyerah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS BUKU SEMUDAH MEMBUAT CEPLOK TELUR

NGE-BLOG itu KEREN

HIKMAH DARI PLN PADAM