Misteri Seorang Ibu

 

MISTERI SEORANG IBU

Telah dibukukan dengan ISBN : 978-602-457-662-2


  Bukti Fisik E-Sertifikat sebagai penulis buku


 
Kisah penulis lain di Facebook :
Ibu Mulyani, S.Pd
dan 
Suster Susyanti Rutas Ataupah, A.Md. Kes
 
 
 
Ibu

Pencipta dan Penyanyi : Iwan Fals

 

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah

Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu 'ku membalas
Ibu
Ibu

Ingin kudekap
Dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur
Bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa
Baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu
Ibu

Sumber : https://youtu.be/o62USXfcWCc


 

Tulisan itu hanya satu yang selalu aku ingat hingga kini. “Nduk, cah ayu... hidup itu perjuangan dan harus di perjuangkan hingga kita layak mendapatkannya. Ingat berjuang..., berjuang..., berjuang..., dan teruslah berjuang, Nduuk” Bahasa itu ditulis ibu dengan huruf kapital dan besar-besar.

 

Misteri Seorang Ibu

 

 

T

ulisan ini saya dapatkan dari kiriman WhatsApp Group Ayah Bunda. Ada sesuatu yang membuatku peduli pada karya yang indah ini. Hingga saya harus menulisnya menjadi kisah inspirasi bagi pembaca buku “Hadiah Untuk Bundaku” Jilid 1 ini. Di kisahkan bahwa ada dialog antara anak lelaki dan ibunya.

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis?. Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?". Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan. "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?. "Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Seorang ibu akan tetap terdiam dengan perilaku anak-anaknya yang kadang sangat melukai hati dan perasaannya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat seorang bayi atau anak didekap dengan lembut olehnya. Dalam dekapan ibu, bayi atau anak secara psikologis langsung terdiam jika sedang menangis. Apakah setelah dewasa anak tahu akan hal ini?... Tanya Tuhan kepada anak lelaki itu dalam mimpinya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?. Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya dalam bentuk psikis maupun fisiknya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. “Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan". Maka, dekatkanlah diri kita pada sang ibu kalau beliau masih hidup, karena hanya di bawah telapak kaki ibu kita menemukan surga.

Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir. Kasih ibu itu selalu berputar dan senantiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Melingkupinya seperti kabut pagi, menghangatkannya seperti mentari siang, dan menyelimutinya seperti bintang malam. Semoga kita diberikan ampunan dari Allah SWT. Aamiin. . .

Sepenggal kisah dari WhatsApp group itu mampu membuat meleleh air mata hingga membasahi pipiku malam itu. Ibu . . ., aku tiba-tiba teringat ibu nun jauh di Pulau Jawa. Pulau yang teramat jauh dari tempat tinggalku saat ini bersama suami dan anak-anakku. Mengenang jasa ibu dalam hidupku sungguh sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan rumah tanggaku.

 

Saya dan suami Alauddin Haji Kamaluddin, A.Md

Kami menikah tepat 15 Oktober 1993

 

Rumah tangga yang saya bangun bersama lelaki dari Kabupaten Flores Timur, Pulau Solor Timur, Desa Lamakera Watobuku, dengan dikaruniai lima orang anak, dan tiga cucu, yang sangat membahgiakan itu. Kadang membawa kerikil dan duri tajam dalam perjalanan perkawinan kami. Dalam keadaan saya dan suami yang kadang berselisih paham, sosok ibu selalu hadir dalam hati dan kenangan bersamaku ketika kecil dahulu.

Ibu bagiku segala-galanya walaupun tempat tinggal kami berada sangat jauh dan dipisahkan lautan. Dalam segala keadaan saya selalu cerita kepada Ibu, apabila saya menghadapi masalah dalam rumah tanggapun saya masih terus cerita kepada Ibu. Tentu hal ini tanpa sepengetahuan suami. Dalam cerita tentang suami, ibu balik bercerita tentang Bapakku juga. Bapak yang dulu tak jauh berbeda dengan suamiku.

Di sinilah kebijaksanaan ibu saya rasakan, sebagai orang tua seharusnya ibu membela aku yang anak kandungnya, tetapi ibu tidak melakukan hal itu. Bagi ibu, rumah tanggaku adalah segala-galanya. Bagi ibu, sukses wanita karier itu adalah sukses dalam membina rumah tangganya, apapun resikonya.

Menikah dengan lelaki yang berbeda adat kebiasaan dengan kita, merupakan ujian yang terberat yang saya jalani sebagai istri juga ibu bagi anak-anakku. Banyak perbedaan, banyak yang tidak sepaham dalam segala hal di pernikahan kami. Untuk menyatukan pendapat kita, kadang saya memilih diam, dan hal itu sering tidak menyelesaikan masalah, hingga berhari-hari lamanya. Keadaan seperti itulah saya lari dan curhat kepada ibu melalui surat.

Dulu komunikasi kami jalin dengan menulis surat, dan dikirin melalui Pos dan Giro. Tulisan itu hanya satu yang selalu aku ingat hingga kini. “Nduk cah ayu..., hidup itu perjuangan dan harus di perjuangkan hingga kita layak mendapatkannya. Ingat berjuang..., berjuang..., berjuang..., dan teruslah berjuang, Nduuk.” Bahasa itu ditulis ibu dengan huruf kapital dan besar-besar.

Selesai membaca surat dari ibu, meleleh air mata membasahi pipiku, hingga lama sekali. Kadang saya menangis seorang diri dalam kamar hingga dadaku terasa sesak. Sosok ibu yang begitu tegar, kuat, dan luar biasa dalam hidupku, yang membuat aku sukses di rantauan orang. Nasehatnya hanya satu, apabila saya benar-benar terpuruk dalam perjalanan pernikahan saya. Ibu hanya berpesan “Serahkan semua takdir itu kepada Allah SWT”.

Allah pemilik bumi, dan penguasa langitlah, yang wajib kita sembah, dan wajib kita ceritakan semua masalah kita. Serahkan dan pasrahkan semuanya kepada Allah seraya memohon ampunan dan berdoa untuk kekuatan jiwa kita menerima takdir-Nya. Sungguh nasehat yang sangat menyejukkan hatiku sebagai anak tertua dan merantau jauh dari ibu dan bapak di Surabaya.

Nasehat demi nasehat dari tulisan tangan ibu, hingga saat ini melalui telepon dan video call, membuat jiwa raga saya kuat, saya tumbuh menjadi wanita tangguh serta wanita yang tegar juga sangat percaya diri. Nasehat yang sangat menguncang bathinku kala itu, ketika saya mulai sakit-sakitan, ibu mengajak saya melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci.

Kata ibu kala itu, “Jangan pikirkan dunia saja nduk (Nduk sebutan bagi anak perempuan dari pulau Jawa/bahasa Jawa). Pikirkan juga akheratmu, ibu ingin umroh, ayo temani ibu. Ibu sangat ingin umroh Nduk, tapi uang ibu kurang Nduk”. Seperti tersambar petir di siang hari mendengar keinginan ibu yang sangat kuat dari balik telepon malam itu.

Saya tidak memiliki uang, tetapi ibu terus meyakinkan saya bahwa Allah itu maha kaya. “Allah yang akan mencukupkan kita umroh nanti nduk” ucap ibu waktu itu. Semalam saya tidak bisa tidur, berpikir uang untuk kami umroh (saya dan ibu). Jujur saya tak punya uang sama sekali ketika itu. Tiba-tiba saya teringat pesan ibu bahwa hidup itu perjuangan dan harus diperjuangkan.

Berbekal nasehat yang selalu terngiang-ngiang dibenakku, “Hidup adalah perjuangan dan harus diperjuangkan”. Aku begitu yakin, bahwa Allah maha kaya, dan jika Allah berkehendak. Maka..., “Kun Fayakun”, jadi maka jadilah. Saya berjuang untuk bisa umroh bersama ibu, tanpa aku memiliki uang sepeserpun. Lalu apa yang harus saya perjuangkan?...

Besoknya saya atur langkah hanya percaya bahwa Allah Maha segala-galanya, Allah pemilik bumi dan segala isinya, rasa yakin kepada Allah Swt inilah, yang akan membayar biaya umroh kami berdua, dan membawa kami terbang mengelilingi separoh dunia. Subhanallah... Saya bisa membayar biaya umroh ibu dan saya. Lega rasanya hari itu keinginan ibu bisa terwujud.

Anda tahu, dari mana uang saya dapatkan?... Uang itu dari gaji tunjangan sertifikasi saya yang belum dibayarkan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang selama setahun, dan sebenarnya saya sudah tidak ingat lagi. Ketika teman-teman terima gaji sertifikasi setiap enam bulan sekali, waktu itu peralihan pembayaran gaji dari Pos dan Giro ke kas daerah, membuat gaji sertifikasi kami terhambat dan dibayarkan enam bulan sekali. Hingga bertahun-tahun baru normal pembayarannya setiap tiga bulan sekali. Pada semester pertama maupun kedua tahun 2011 saya belum menerima tunjangan sertifikasi. Saya tidak pernah tahu mengapa saya tidak menerima tunjangan sertifikasi guru.

Perasaan gundah, was-was dan kecewa berkecamuk dalam jiwa. Saat semua orang menerima tunjangan sertifikasi guru tepat waktu enam bulan sekali, saya belum juga menerimanya hingga akhir tahun 2011. Namun, segala rasa yang nyaris membuat emosi tak terkendali itu mendadak sirna. Tepat tanggal 8 Januari 2012, tunjangan sertifikasi saya cair selama setahun. Allahu Akbar !!!.

Janji Allah dalam Al Qur’an Surat Saba ayat 39 yang berbunyi, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”, benar-benar saya rasakan.

Jawaban Allah atas doa-doa saya untuk kami bisa umroh bersama ibu, Allah kabulkan hari itu. Uang saya ambil dan saya transfer ke Budhe Senan. Saudara perempuan ibu yang mengurus keberangkatan kami ke Mekkah untuk umroh. Budhe Senan dan adik-adiklah yang membiayai ibu umroh, dan kekurangannya saya yang menambah.

Setelah saya transfer uang untuk biaya umroh kami berdua, saya tak punya uang lagi. Maklumlah saya hanya guru di desa, dengan lima anak yang masih kecil-kecil pula. Banyak kebutuhan hidup yang harus kami penuhi untuk biaya makan dan biaya sekolah anak-anak kami. Sambil mengajar, saya berdagang, dari hasil berdagang itulah saya kumpulkan untuk uang saku kami berdua.

Tiga juta saja saya membawa uang untuk biaya umroh. Itupun ada dalam ATM Bank Mandiri yang berlogo VISA. Kata petugas Bank Mandiri, “Ibu bisa ambil uang dimana saja dengan logo VISA pada kartu ATM bahkan sampai keluar negeri”. Saya tipe orang yang tak pernah membawa uang cash, semua dalam bentuk ATM Bank. Orang tak penah tahu bahwa ATM Bank saya juga tak banyak isinya. He he he . . .

Dengan rasa percaya diri, saya terbang ke Surabaya menjemput ibu untuk terbang ke Jakarta. Kami melakukan penerbangan umroh melalui Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Saya bermalam di Surabaya, besoknya kami lanjutkan ke Jakarta dengan penerbangan siang. Malam saya bercerita dengan ibu dari hati ke hati. Saya bertanya kepada ibu; “Ibu membawa uang berapa, untuk uang saku selama perjalanan umroh?...” Ibu menjawab, “Wong kata Budhe Nan (Budhe Senan Nitrap nama Pakde saya seorang perwira tinggi TNI AL, yang dipakai di belakang nama Budhe saya hingga kini), ora oleh gowo duit akeh-akeh kok, Nduk”, (Kata Budhe Nan tidak boleh membawa uang banyak nona. Red).

Saya tanya lagi, “Iya bener, Budhe Nan bilang begitu. Budhe juga telpon saya, niat umroh karena Allah bukan karena yang lain-lainnya. Tapi kita perlu waspada juga bu, harus ada persiapan jika kelaparan atau sakit dan lain-lainnya”. Dibalas ibu, “Kita harus yakin tak ada apapun dalam perjalanan suci kita nanti nduk. Jujur saja, ketika ibu bilang hanya punya uang dua ratus ribu saja untuk mau berangkat umroh ke Mekkah saya sudah syok duluan.

Dalam benak saya umroh ini pergi lintas negara, hampir separoh dunia akan kami lalui dalam penerbangan. Namun ibu begitu percaya dirinya bahwa pasti tidak ada apa-apa dalam perjalanannya nanti. “Ya Allah..., tolong kami,” jeritku dalam hati. Malam itu saya dan ibu membaca Al-Qur’an sebelum berangkat ke Jakarta esok harinya.

Pagi-pagi kami bersiap diri untuk berangkat ke Bandara Internasional Juanda Surabaya. Sejak subuh saya terus mengingat Allah seakan-akan saya akan mati besok pagi. Saya merasa ujian Allah akan semakin banyak dalam perjalanan kami nanti, karena kami tidak membawa bekal uang yang cukup. Hari itu ibu terlihat sibuk sekali, namun aku tidak tahu apa yang menjadi kesibukan ibu. Saya minta ibu segera berkemas agar dapat segera pergi ke bandara.

Akhirnya kami berangkat ke bandara. Sesampainya di bandara, pesawat yang kami tumpangi sudah terbang ke Jakarta beberapa menit yang lalu. “Ya Allah..., uangku hanya tiga juta saja di ATM,kegelisahan mulai melanda hatiku. Saya tanya ibu sekali lagi, “Ibu membawa uang tidak?” Jawaban ibu tetap sama, “Ini uang ibu“, sambil menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah kepada saya. Saya menuju ATM Bandara, setelah bertanya harga tiket, dan separoh dari uang di ATM saya ambil di bandara Juanda Surabaya untuk membeli tiket ke Jakarta.

Sore itu saya dan ibu terbang ke Jakarta, saya telepon Teteh sahabat yang menjadi saudara perempuan saya hingga kini. Sesampainya di Jakarta kami menumpang di rumah Teteh di perumahan perwira TNI AD. Perkenalan saya dengan Teteh karena beliau istri mantan pejabat TNI AD yang pernah bertugas di Nusa Tenggara Timur.

Teteh adalah sosok perempuan yang begitu sempurna bagi saya, dari Teteh saya belajar ikhlas dalam hidup ini, dan suka bersedekah. Apapun yang saya sodorkan kepada Teteh dalam bentuk proposal bantuan, selalu Teteh kasih dengan tulus ikhlas. Kadang saya berpikir, Teteh nggak takut uangnya saya salah gunakan?...

Teteh adalah donatur dalam segala kegiatan keagamaan saya di Kupang NTT. Mulai dari Wanita Islam, Majelis Ta’lim, hingga kegiatan sosial lainnya. Hingga zakat fitrah, zakat maal, juga hewan qurban setiap tahunnya saya selalu dipercayakan untuk membaginya kepada kaum duafa di pesisir pantai Namosain tempat tinggal saya.

Teteh ketika di Kupang adalah istri perwira TNI AD yang solehah dan aktivitas sosialnya sungguh luar biasa, saya mengenalnya ketika kegiatan bakti sosial TNI AD ke daerah saya bersama Wanita Islam.

Teteh tahu dan sangat paham perkembangan umat Islam di Nusa Tenggara Timut. Dari perkenalan itulah, Teteh mempercayakan penghasilannya untuk saya yang mengatur dan dibagikan kepada para duafa dan janda miskin di sekitar rumah saya pesisir pantai Namosain.

Teteh bagikan malaikat dalam hidup saya, Teteh memiliki talenta sebagai kakak perempuan juga ibu bagi saya. Entah dari arah mana Teteh selalu tahu keadaan saya di Kupang, padahal Teteh sudah tinggal di Jakarta.

Ada saja yang Teteh perbuat untuk saya dan keluarga beserta anak-anak saya di Pondok Pesantren At Tauhid Surabaya, bahkan HP saya Samsung J7, saya beli karena Teteh yang memberikan uangnya terlebih dahulu.

HP pemberian Teteh hampir enam tahun bersama saya dan hingga hari ini tetap setia tanpa ada masalah sedikitpun. Kata Teteh ketika itu, “Nda sudah saatnya punya HP androit”. Teteh selalu memanggilku “Nda” artinya adinda.

Saya jawab singkat “Teteh subsidi ya?, nanti aku beli HP androit yang terbaru dan canggih Teh”. Ha ha ha . . . Tanpa saya duga sebelumnya Teteh langsung menjawab dengan senyuman “Iya nanti Teteh transfer uangnya ke rekening Nda”.

Begitulah Teteh kepada saya, juga anak yatim piatu, kaum duafa, dan janda miskin di Kupang NTT. Mengenang betapa baiknya Teteh kepada saya, selalu ada doa tulus saya kepada Teteh dengan linangan air mata membasahi jubah sholatku. “Semoga Teteh sehat selalu, diberi keberkahan dan rejeki yang berlimpah dari segala arah”, aamiin.

Ketika saya menghilang dari hadapan Teteh, SMS Banking saya berbunyi diiringi dengan SMS Teteh yang berbunyi, “Nda, Teteh hanya bisa bantu sedikit, semoga bermanfaat”. Seperti itulah Teteh dalam hidup saya. Wanita cantik dan tangguh yang dulu pernah sama-sama merantau di Kupang NTT, dan bersama saya menjalin silahturahmi bersama ibu-ibu muslim kota Kupang.

Perjalanan saya umroh setelah menginap semalam di rumah Teteh. Kami ditampung di hotel sehari sebelum keberangatan dengan biaya ditanggung oleh biro perjalanan umroh. Hari itu kami masuk hotel dan bagikan tiket, visa, serta dokumen lainnya. Rencananya kami terbang esok pagi pukul 03.00 WIB.

Namun menjelang sore hari, kami dihubungi biro perjalanan umroh bahwa dokumen perjalanan umroh untuk ibu tidak ada (belum jadi), maka ibu harus ditinggal keberangkatannya. “Ya Allah . . . ujian apa lagi ini?, bathinku merintih sedih. Ibuku tidak mendapatkan dokumen perjalanan untuk berangkat umroh dini hari nanti. Saya dan Budhe Nan pun mengajukan protes kepada biro perjalanan umroh.

“Saya tidak bisa meninggalkan ibu saya berangkat sendirian, sedangkan saya terbang lebih awal. Kerja model apa ini?...” protes saya kepada pemilik biro perjalanan umroh.

Budhe Senan seketika itu telepom Om Ibnu, adik ipar yang bertugas menjadi Duta Besar di Negara Tunisia, Negara yang berbatasan dengan Negara Libya dengan pemimpin yang termasyhur dan karismatik hingga kini Moammar Khadafi.

Alhamdulillah, pemilik biro perjalanan umroh bersedia mengupayakan dokumen perjalanan umroh kami berempat dan menanggung biaya hotel serta makan kami selama di Jakarta. Sementara itu Om Ibnu bekerja dari Negara Tunisia mengkondisikan dokumen saya berempat keluar bersama-sama.

Selama tiga hari kami makan dan tidur di hotel gratis, sambil menunggu dokumen perjalanan rombongan kami diselesaikan oleh pihak travel. Khususnya dokumen perjalanan umroh saya, ibu, budhe Senan dan temannya, dalam rombongan itu sayalah yang usianya paling muda.

Selama itu saya terus berdzikir sepanjang waktu, puasa nabi Daud terus saya lakukan tanpa henti, hingga akhirnya kami dapat berangkat umroh. Ketika hari keberangkatan umroh adalah hari saya berpuasa, saya berniat puasa sebelum masuk pesawat pukul 03.00 WIB.

Singkat cerita, kami tiba di Jeddah siang pukul 11.00 waktu Jeddah. Saya masih berfikir, bagaimana nanti jika ibu ingin sesuatu di Mekkah dan Madinah?. Sesaat saya ingat bahwa saya sudah menginjakkan kaki di rumah Allah.

Segera saya lupakan segala kekhawatiran saya dan hanya fokus untuk beribadah saja, apalagi saya sedang puasa. Hari itu saya puasa sangat panjang, Alhamdulillah saya bisa melaluinya dengan baik tanpa halangan apapun juga.

Subhanallah…, akhirnya menjelang adzan maghrib saya tiba di Madinah. Ketika turun dari bis, semua barang sudah dikeluarkan, bis melaju meninggalkan kami, nasi jatah makan siang yang sedianya saya simpan untuk berbuka tertinggal dalam bis, dan posisi kami masih diluar hotel. Saya benar-benar harus berhemat, karena saya tidak pegang uang sama sekali, uang ada di ATM. Saya tidak tahu ATM ada disebelah mana?...

Tiba-tiba ada seseorang memberi saya roti dan susu, sambil berkata “Ambillah ini halal untukmu”. Ketika roti dan susu sudah ditangan saya, adzan pertama saya dengar dari makam Rosulullah SAW di Madinah. Alhamdulillah, saya bisa berbuka puasa hari pertama di Madinah, tanpa kesulitan dan dimudahkan Allah.

Saya berbuka dengan roti dan susu yang diberikan oleh seorang lelaki tua, saya merasa ada suatu keajaiban dari Allah SWT. Sebab lelaki yang tadi memberikan saya roti dan susu saya lihat tidak ada dalam kerumunan rombongan saya ketika masuk hotel, dan saya cari keluar juga tidak ada, cepat sekali orang itu menghilang dari hadapan saya.

Dua hari saya lalui di Jeddah dan Madinah tanpa mengeluarkan uang satu sen pun. Kami berjalan kaki dari hotel di kota Madinah menuju Raudhoh makam Rosulullah SAW yang berada dalam masjid Nabawi. Kebetulan perjalanan umroh kami adalah perjalanan umroh exclusive sehingga pelayanannya juga sangat baik dan memuaskan jamaahnya.

Sehari sudah saya di Madinah, selama itu saya menyempatkan berjalan-jalan di sepanjang Raudhoh, dan tergoda untuk membeli barang di sana. Namun, apalah daya keinginan tidak seiring dengan kemampuan. Ibu meminta kembali uang yang telah dipinjamkan kepada saya untuk membeli tiket baru terbang dari Surabaya ke Jakarta ketika kami terlambat tiba di bandara Juanda dan tiketnya hangus.

Kata ibuku ketika itu, “Uang ibu mana nduk yang kamu pinjam untuk membeli tiket kemaren?...”, pinta ibu kepada saya. “Ya Allah, kuatkan imanku,” gumanku dalam hati. Yang membuat terlambat ke bandara ibu, dan saya pinjam uangnya maksud saya sampai Indonesia akan saya ganti. Tidak mau mengecewakan ibu, hari itu saya keliling hotel dan bertanya kepada siapapun dijalan sambil menunjukkan kartu ATM.

Karena saya tidak bisa berbahasa Arab, dengan gerakan tubuh dan menunjukkan ATM kepada setiap orang yang saya jumpai di jalan, akhirnya uang di ATM yang tinggal beberapa rupiah sisa pembelian tiket kami berdua, saya ambil semuanya di Madinah.

ATM kosong, uang saya serahkan kepada ibu semuanya. Saya sudah tidak berpikir lagi nanti harus bagaimana?. Hati saya terasa damai, karena yakin ada Allah yang akan mencukupkan segala kebutuhan saya selama umroh dan pulang kembali ke rumah di kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Keyakinan inilah yang membuka keberkahan saya di Madinah, kota tempat Rasulullah hijrah dan dimakamkan.

Hari kedua di Madinah, sepulang sholat isya’ ada rombongan datang dari Indonesia. Semua koper jamaah menumpuk di lobi hotel karena semua sangat kelelahan. Saya mencoba menolong seorang ibu yang berangkat bersama anak gadisnya yang juga mabuk perjalanan. Malam itu saya menolong keduanya dengan membawakan koper kekamarnya di lantai atas.

Saya lihat kamar ibu dan anak ini berhadapan dengan kamar yang saya tempati bersama ibu. Makanya saya minta ibu saya ikut menolong mambawa anak gadisnya jalan menuju atas dengan melalui tangga berjalan. Saya membawa dua koper kiri dan kanan, sedangkan ibu menggandeng salah satu jamaah yang tampak kelelahan hingga tiba dikamarnya.

Karena kamarnya berhadapan dengan kamar saya, maka saya berpesan kepada mereka untuk mengetuk pintu kamar saya jika membutuhkan bantuan. Entah kenapa saya begitu kasihan kepada keduanya. Mereka bukan rombongan saya dan jauh dari tempat tinggal saya di Indonesia. Ternyata ibu tadi benar-benar mengetuik pintu kamar meminta bantuan untuk membeli makanan bagi anaknya.

Waduh???..., selama di hotel saya tak tahu mana-mana, kecuali dari hotel menuju masjid Nabawi saja. Dengan semangat Raden Ajeng Kartini saya berusaha menolongnya. Malam itu, saya ditemani ibu keluar hotel hendak mencari makan dan minum. Barulah saya tahu suasana malam di kota Madinah yang ternyata ramai sekali. Bahasa Indonesia di arena jual beli yang letaknya tak jauh dari hotel, sangat populer di tempat itu.

Sudah seperti pasar malam di Indonesia saja suasananya. Sepanjang perjalanan naik turun tangga hotel, dan berjalan menuju tempat jualan makanan dan minuman, kami bercerita panjang lebar tentang keluarga kami masing-masing. Saya tak menyangka ibu yang baru saya kenal, yang katanya mau cari makan, ternyata tertarik dengan tawaran para pedagang dan langsung berbelanja banyak. Ada pakaian, sorban untuk suami, oleh-oleh untuk anak, keponakan, tetangga dan saudara yang lainnya.

Sambil belanja beliau terus bercerita, ini perjalanan umroh saya yang kedua, “Keluarga saya besar, Bu. Kami waktu berangkat kemaren semua mengantar ke bandara ada tiga bus. Berangkat dari Probolinggo usai sholat subuh”. “Waduh???...” dalam hati saya.

Lebih kaget lagi, barang yang dibeli banyak banget. Masih seperti yang jumpa pertama tadi, saya suka tak tega melihat hal-hal yang menurut saya harus saya tolong. Saya orangnya mudah kasihan kepada sesama. Karena rasa inilah saya sering ditipu orang.

Apakah lantas saya berhenti untuk berbuat baik?..., TIDAK. Saya yakin, Allah akan terus memberikan saya kebaikan dari waktu ke waktu. Ketika kita berbuat baik selalu ada kebaikan lain yang Allah berikan kepada kita, yakinlah akan hal itu. Untuk itu jangan pernah bosan untuk berbuat baik”.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian. Sebab, kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.” (Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda RA).

Seperti itulah hati saya malam itu, menolong ibu yang saya antarkan hendak membeli makan dan minum untuk anak gadisnya. Ternyata memborong oleh-oleh juga untuk keluarganya. “Nanti kita sudah sibuk dengan ibadah, jadi selagi ada kesempatan kita manfaatkan untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah”, begitu katanya pada saya malam itu.

Apa yang terjadi setelah itu?. Malam itu, saya membawa semua belanjaan ibu tadi dengan suka cita karena bisa menolong orang dan berbuat baik kepada sesama di kota Madinah. Saya yakin Allah akan meridhoi. Aamiin... Saya bawa belanjaan yang berat-berat dari jalanan yang ramai hingga depan kamar hotel yang kami tinggali. Kalau dilihat, saya seperti kuli angkut barang belanjaan di pasar-pasar tradisional di Indoneia. Ha ha ha. . .


Suasana malam itu, di depan Mubarak Al Madinah Hotel tempat saya menginap bersama ibu saya Sukijah Binti Gito Kaiman

 

Alhamdulillah, saya bahagia bisa menolong orang. Sesampainya di depan kamar beliau, saya masih berusaha untuk angkat belanjaan tadi masuk kedalam kamarnya. Ketika saya hendak pamit untuk istirahat, ibu tadi memberikan saya makanan dan minuman yang kami beli dibawah tadi. Saya terima makanan dan minuman tadi sambil mengucapkan Syukran, Jazaakallahu khairan”, yang aritnya “Terima kasih semoga Allah membalas keabikanmu”

Setelah di dalam kamar, saya buka makanan dan minuman lengkap dengan buah-buahan pemberian ibu dari kota Probolinggo tadi. Saat membuka kantong buah, betapa terkejutnya saya karena ada sejumlah uang yang cukup banyak jumlahnya. Seketika itu saya keluar, mengetuk pintu kamar ibu tadi, dan saya sampaikan ada uang tertinggal dalam kantong buah. Dengan senyum lembutnya, ibu itu berkata, “Tidak apa-apa bu, mohon diterima ya, untuk keperluan selama dalam perjalanan umroh bersama ibu”.

Jujur, saya tidak pernah bercerita tentang perjalanan saya dengan ibu teman baru saya malam itu, juga kepada siapapun, tentang keuangan kami ketika berangkat umroh. Lalu tiba-tiba Allah menggantinya dengan jumlah yang sama ketika saya berangkat umroh dari Kupang hingga di Madinah. Subhanallah... Maha Suci Allah yang telah menunjukkan segala kuasa-Nya. Jika kita mendahulukan urusan Allah, maka urusan lainnya akan mengikuti dengan sendirinya.

Allah telah mengutus malaikatnya tak bersayap untuk menolong saya dalam perjalanan umroh bersama ibu. Pelajaran berharga dari ibu yang selalu menasehati kami anak-anaknya, “Dahulukan urusan Allah, maka urusan dunia akan mengikuti dengan sendirinya. Jika kau menolong agama Allah, pasti Allah menolong kau dalam kehidupan di bumi ini”. Nasihat ibu ini seperti yang tercantum pada Surat Muhammad ayat 7 yang artinya, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.“

Ketika adzan subuh berkumandang, saya mengetuk pintu depan kamar hotel saya. Ternyata ibu yang telah memberi uang, buah-buahan, dan makanan, sudah pindah ke hotel yang lain tadi malam. Saat di kota Mekkah kami kembali berjumpa, namun bertepatan saya dan rombongan hendak kembali ke Jeddah, untuk selanjutnya kembali ke Indonesia dan terbang ke Kupang Nusa Tenggara Timur melalui Jakarta. Hingga kisah ini saya tulis dalam buku, saya selalu terkenang kepada Ibu saya Sukijah Bin Gito Kaiman, yang sudah sangat tua dan seorang diri di Surabaya, yang selalu menasehati saya untuk selalu bergantung hidup hanya kepada Allah saja.


 Terima kasih ibu untuk ajaranmu

Selamat Hari Ibu, I love you buu …..

 

 

 

Profil Penulis

    Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH sewaktu kecil biasa disapa Mbak Pipin anak pertama dari pasangan almarhum Bapak Kaimin Herly Sutikno, BA Bin Mbah Martho Siram (Ketua Yayasan Pendidikan dan Kepala Sekolah Dasar “YP. Kesuma” Surabaya), dan Ibu bernama Sukijah Binti Mbah Gito Kaiman (Kepala Taman Kanak Kanak “YP. Kesuma” Surabaya). Memiliki hobi membaca, menulis, traveling, dan berenang. Lahir di Surbaya, 11 Maret 1969. Pendidikan terakhir IKIP PGRI Surabaya, Sarjana S1, FKIPS Jurusan PMP/Kn dan Universitas Wijaya Putra Surabaya, Sarjana S1, Fakultas Hukum, Jurusan Ilmu Hukum. Berprofesi sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMPN 2 Nekamese, Desa Besmarak, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur

Instuktur Provinsi NTT Mata Pelajaran PPKn Jenjang SMP Kurikulum 2013, Narasumber Literasi daerah perbatasan, Narasumber Literasi tingkat Nasional bersama PGRI Pusat (Dalam kelas belajar menulis Blog bersama Om Jay, Blogger Ternama Indonesia). Peraih Juara Kategori kedua tingkat Nasional Lomba guru bersama Telkom dan Intel Prosessor “My Teacher My Hero Award Indonesia Digital Learning Tahun 2015”. Penggiat literasi Nusantara, dan Motivator menulis buku.

Mulai serius menekuni dunia menulis sejak bergabung dengan Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Wilayah Nusa Tenggara Timur, sejak berdirinya di NTT pada tanggal 14 Desember 2014 sebagai pendiri dan menjadi pengurus inti.

 

Penulis artikel pada majalah :

Ø FORWAS (Majalah Forum Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional), Forum Pengawasan Nomor 26/XII/2007, dengan judul “Peran Guru Sebagai Organisator & Administrator.” Pada halaman : 24, 25, dan 26.

 Penulis Karya Tulis Ilmiah pada Prosiding :

1.     Karya tulis yang berbentuk makalah ilmiah yang di seminarkan tingkat nasional, di Universitas Negeri Malang pada tanggal : 9 Oktober 2010, dimuat & diterbitkan pada PROSIDING, dengan ISBN : 978-602-97895-0-8, dengan Judul : “Pendukung dan Kendala dalam Menyelenggarakan Lesson Study di Kabupaten Flores Timur.” di muat pada Makalah Umum.

2.    Karya tulis berbentuk makalah ilmiah populer yang di seminarkan tingkat nasional, di Universitas Negeri Malang pada tanggal : 12 November 2011, karya tulis ilmiah diterbitkan pada PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY IV, dengan ISBN : 978-602-97895-5-3, dengan judul : “Peran Lesson Study dalam meningkatkan profesionalisme pendidik dan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 2 Nekamese, Kabupaten Kupang.” di muat pada Makalah Umum.

Penulisan Karya Tulis Ilmiah pada Jurnal Ilmiah PEN@ GURU Agupena NTT :

1.     Nomor 08 Tahun V, edisi khusus Hari Guru Tahun 2019, dengan judul Best Practise: “Membangun Budaya Menulis Guru Sasaran PPKn Melalui Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi di Kabupaten Kupang”

2.    Nomor12 Tahun VI, edisi khusus Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020, dengan judul Best Practise : “Facebook sebagai kelas bagi peserta didik Pada Masa Pandemi Covid-19 Di SMP Negeri 2 Nekamese Kabupaten Kupang”

3.    Nomor 14 Tahun VI, edisi khusus Hari Kemerdekaan RI Tahun 2020, dengan judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK): “Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning pada Materi Peraturan Perundang-undangan untuk meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Peserta Didik Kelas VIIIC SMP Negeri 2 Nekamese”.

 

Penulis buku tunggal :

1.     GURU adalah INSPIRASI serial “Pelita Kampung Beta Jejak Juang Guru Desa di NTT” dan menjadi buku Best Seller Nusantara.

2.    Melejitkan Berpikir Tingkat Tinggi PPKn Melalui Discovery Learning.

3.    GURU adalah INSPIRASI serial “Menulis Blog itu Keren”

Penulis buku Antologi :

1.     Ukir Prestasi Tebar Inspirasi, Surakarta, Jawa Tengah (27 September 2020)

2.    Secercah Harapan dalam Keterbatasan, Sukoharjo, Jawa Tengah (6 Oktober 2020)

3.  Berbagi Kisah Inspirasi Menuju Sukses (Antologi Belajar Menulis Bersama Bunda Lilis Sutikno),   Sukoharjo, Jawa Tengah (03 November 2020)

5.  Merdeka Menulis Kisah Inspiratif (Antologi Belajar Menulis Bersama Bunda Lilis Sutikno),
Sukoharjo, Jawa Tengah (12 Desember 2020)

6.  Pahlawan Dalam Hidupku, Solo, Jawa Tengah (16 Desember 2020)   

7. "Hadiah Untuk Bundaku" Jilid 1 (Antologi Persembahan Khusus Buat IBU Bersama KELAS WAG MBI Bunda Lilis Sutikno). Sukoharjo, Jawa Tengah (02 Januari 2021)

Editor Buku :

1.     Antologi Puisi “Cinta Tergerai” Karya Bergita Kapa, S.Pd

2.    Antologi Puisi “Mimpi dan Cita-citaku” Karya Maria Stefania Tanggela

3.   Antologi Puisi “Beringin Tua” Karya bersama peserta didik SMP Katholik Tunas Harapan Santo Petrus Lahurus Atambua Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

4.   Antologi Puisi “Celotehan Hati Terselatan Indonesia” Karya Agus Hartatik, S.S., M.Pd

5.  Antologi Puisi “Mengungkap Nuansa Makna Lewat Goresan Puisi” Karya Maksuddin, S.Pd., M.Hum

6.    Antologi Puisi “Coretan Pena Sang Musafir” Karya Suster Modesta Abuk Manek, SSpS., S.Pd

7.    Antologi Puisi “Generasi Melineal to Generasi Covid-19” Karya bersama Dra. Rukmini Dwi Wanti, Prof. Pujiati,M.Soc. Sc.,Ph.D, Suster Modesta Abuk Manek, SSpS., S.Pd

 

Blog :www.guruinspirasintt.com ,

Facebook :Lilis Sutikno (Mbak Pipin) ,

Alamat email :ibugurucantik@yahoo.com   &   lilissutikno69@gmail.com

Dapat dihubungi pada nomor HP/WA: 082 226 376 157


 

 

Komentar

  1. "Hidup itu perjuangan dan harus di perjuangkan hingga kita layak mendapatkannya." Luar biasa sekali pesannya 👍🏻

    BalasHapus
  2. Luar buasa...Hidup itu perjuangan dan harus diperjuangkan hingga kita layak mendapatkannya...Provisiat sahabatku, Inspirasi ku.

    BalasHapus
  3. Betul betul sebuah misteri yang mewarnai kehidupan seorang Bunda Lilis Sutikno yg hebat luat dan menjadi motivator andal terkenal di dunia nyata dan dunia maya. Teruskan perjuangan itu Allah mencatat semua itu.

    BalasHapus
  4. Tulisan yang mrnginspurasi siapspun agar bisa membahagiakan ibu yang melahirkannya.Selamat dan sukses bunda Lilis.

    BalasHapus
  5. Keren karyanya bunda, sampai-sampai air mata ini ngalir tak terbendung bund😢😢👍👍

    BalasHapus
  6. Masya Allah, Luar biasa bunda. Aku juga ingin berbagi kisah mengenai perjalanan spiritual seperti Bunda, tapi Sampai sekarang belum terlaksana...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS BUKU SEMUDAH MEMBUAT CEPLOK TELUR

NGE-BLOG itu KEREN

HIKMAH DARI PLN PADAM