PULAU KERA 1

 

PULAU KERA DENGAN SEJUTA MIMPINYA

 

Pagi itu udara di kota Kupang terasa segar, semalaman saya tidak tidur karena menyelesaikan beberapa pekerjaan pokok sebagai guru dan persiapan berkas diklat. Saya begitu bahagia dan riang gembira menyambut pagi ceria di hari Minggu tepat 2 Mei 2021 hari pendidikan. Hari bersejarah bagi setiap insan yang berprofesi menjadi guru.

Bukan karena hari pendidikan saya merasakan hati yang berbunga-bunga, lebih dari itu semua. Pada pagi hari itu, saya akan melaksanakan amanah saudara saya hamba Allah yang menitipkan sedekah, infaq, zakatnya untuk saudaraku di Pulau Kera yang terkena dampak Badai Angin Siklon Tropis Seroja pada 5 April 2021 yang lalu. Entah karena apa, semangat juang untuk melihat dari dekat dan menjalin silaturahmi dengan saudaraku di seberang pulau begitu membuat saya bahagia.

        Pekerjaan mulia untuk berbagi kasih kepada saudara muslimku di Pulau Kera, saya gabungkan dengan Rumah Produktif Indonesia (RPI), dan Universitas Muhamadiyah Kupang, serta Universitas Muhamadiyah Malang. Jadilah kegiatan kami sangat bermakna, dan semua lini kami sentuh dengan penuh rasa kasih dan sayang tanpa merendahkannya, seperti dalam laman videi ini: https://youtu.be/5oIYcKrj1uY

Pulau Kera seperti dalam laman ini : http://www.ppk-kp3k.kkp.go.id/direktori-pulau/index.php/public_c/pulau_info/384 berada di Desa Uiasa, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Sedangkan menurut Wilson M.A. Therik dalam bukunya berjudul, “Orang Bajo di Pulau Kera Kabupaten Kupang”, adalah sebagai berikut: “Pulau Kera berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 2017 adalah satu dari 1.192 pulau di Provinsi NTT yang terletak di Teluk Kupang dengan luas daratan lebih dari 25 hektar. Pulau ini seharusnya tidak berpenduduk karena terletak pada Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang dan dimanfaatkan sebagai daerah wisata berbasis konservasi. Namun faktanya, jauh sebelum penetapan TWAL Teluk Kupang, Pulau Kera sudah di tempati oleh warga pendatang musiman yang kini bekerja sebagai nelayan tradisional.

“Beberapa artefak yang ada di pulau Kera antara lain kuburan tua berupa susunan batu membuktikan bahwa memang pulau Kera sudah lama dihuni,” kata Wilson lagi.


Buku Pak Wilson M.A. Therik yang dapat dibeli di sejumlah marketplace mulai Maret 2021 ini terdiri dari lima bab ulasan empiris dan kajian pustaka yang dimulai dari catatan historis tentang kehidupan orang Bajo, hingga pembahasan tentang potensi pembangunan berkelanjutan di Pulau Kera.

            Saat ini Pulau Kera di huni oleh 124 Kepala Keluarga dan 615 Jiwa, dengan mayoritas penduduknya beragam Islam. Ada 3 Kepala Keluarga yang beragama Kristen, dan 1 Kepala Keluarga beragama Katholik. Secara pemerintahan Pulau Kera belum memiliki Kepala Desa, yang ada di wilayah itu adalah ketua RW. Tetapi masyarakatnya menganggap bahwa pemimpin dalam wilayah itu adalah Imam Masjid.

Imam dalam bahasa Arab adalah sebuah posisi pemimpin dalam agama Islam. Dikalangan Sunni, kalimat imam sinonim dengan kalimat Khalīfah. Dalam berbagai keadaan kalimat imam juga bisa berarti pemimpin salat berjamaah dan kalimat imam juga bisa digunakan untuk gelar para ilmuwan agama Islam terkenal.

Istilah Imam yang berkaitan dengan kepemimpinan umat pertama kali disandang oleh Imam Ali, menurut kepercayaan agama Syi'ah. Ali adalah putra Abu Thalib, paman Rasulullah Muhammad SAW. Dalam ajaran Islam Imam adalah pemimpin dalam sholat, tetapi dalam masyarakat suku Bajo yang tinggal di Pulau Kera tersebut Bapak Imam Arsat Abdul Latif juga dipercaya masyarakat untuk memimpin umat (Masyarakat di Pulau Kera).

Masyarakatnya begitu taat pada perintah Bapak Imam, dalam hal kebersamaan membangun peradaban umat di Pulau Kera. Berkunjung dalam kegiatan amal di Pulau Kera, mengajarkan saya pada berbagai banyak hal. Kesederhaan, iman dan taqwa serta rasa percaya kepada Allah SWT semakin tebal. Juga rasa sayang kepada sesama semakin terpupuk dengan baik, ada rasa cinta tumbuh subur dalam hati, serta rindu pada suasana malam yang kusyu’ hanya mengharapkan ridho Allah semata.

Pulau Kera dalam setiap helaan nafas kita akan terus teringat Allah dengan Maha Kuasanya, dengan Maha Kasih dan Sayangnya kepada kita manusia. Ada tetesan air mata haru, ada kebahagiaan tersendiri berada di Pulau yang gersang tersebut. Salah satunya adalah saya bisa kusyu’ bersujud kepada Allah Rabb yang maha segala-galanya. Berat saya mau kisahkan dalam sebuah tulisan lebih panjang lagi. Ada yang saya tak sanggup untuk menyampaikannya dengan kata-kata, tetapi berharap foto-foto dari kunjungan saya ke Pulau Kera bersama Pengurus RPI, Dosen dan Mahasiswa Muhamadiyah serta calon doktor dari Universitas Muhamadiyah ini. Bisa mewakili saya berkisah tentang Pulau itu. Bersambung . . .

Dokumentasi dan Album Foto tentang Pulau Kera, 2 Mei 2021 

Tautan dan Link Facebook :
 
Suasana malam usai teraweh penyerahan zakat maal sahabat dan saudara Bunda Lilis dari luar Nusa Tenggara Timur :
 

 Secara simbolis zakat maal diserahkan kepada Bapak Imam masjid (Bapak Arsat Abdul Latif), dan peruntukkannya untuk THR Guru pada Pulau Kera. Karena saya seorang guru, saya memilih untuk membagikan zakat maal dari saudara saya di Jawa kepada para guru yang telah mengabdikan dirinya di Pulau Kera dengan upah yang tak layak.


             Kamar mandi penduduk tanpa ada WC-nya, lalu kemana mereka jika hendak BAB?, warga Pulau Kera jika hendak BAB di pinggir pantai menunggu jika hari telah gelap atau hari masih gelap.


Kamar mandi guru ada WC nya



 
 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS BUKU SEMUDAH MEMBUAT CEPLOK TELUR

NGE-BLOG itu KEREN

HIKMAH DARI PLN PADAM