SEKOLAHKU LADANG AMALKU

SEKOLAHKU SMP NEGERI 2 NEKAMESE

(Pengabdian Seorang Guru Desa Untuk Indonesia)

- Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H -


Cover Buku dengan ISBN: 978-602-457-760-5


            Sebagai arek Suroboyo kota metropolitan dan yang terlahir di kota besar nomor dua se-Indonesia, aku tak pernah menyangka sebelumnya akan bertugas di desa yang asing bagiku. Desa di wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, tepatnya Desa Besmarak di Kecamatan Nekamese. Pertama saya datang ke sekolah tempat tugas saya sesuai dengan surat tugas yang di tanda tangani oleh Bapak Drs. Nicolaus Nonoago, dengan NIP 130 534 992, sebagai Kepala Badan Kepegawaian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, nomor : 3029/I 21.5/KP/1993, surat tersebut ditetapkan di Kupang pada tanggal 19 Februari 1998.

Masih segar dalam ingatan saya, pagi itu saya berangkat dari rumah di Namosain ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jalan Soeharto No. 57 Kota Kupang pada pukul 07.00 WITA. Kami memang dijanjikan pada hari itu untuk datang mengambil surat perintah bertugas oleh staf beliau, setelah saya menerima surat keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, nomor : 20389/A2/KP/1998. Dengan nomor induk pegawai (NIP) : 132 203 606 yang ditetapkan di Jakarta, pada tanggal : 23 Januari 1998.

Surat Keputusan sebagai Pegawai Negeri Sipil atas nama saya, Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno dari Jakarta ditanda tangani oleh Kepala Bagian Pemberhentian dan Pemensiunan pada Koordinator Urusan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi, Biro Kepegawaian, Bapak Purnama Hadi, S.H dengan NIP. 131 467 045. Pagi itu saya diantar oleh suami dibonceng sepeda motor butut milik suami satu-satunya ke tempat tugas yang tertera dalam surat tugas tersebut di SMP Negeri 3 Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Dari kantor dinas saya dan suami menuju sekolah dengan dipandu oleh staf Bapak Nicolaus Nonoago, suami yang paling banyak tahu seluk-beluk Kota dan Kabupaten Kupang yang menerima arahan tersebut. Kami pamit dan melaju berdua menuju ke SMP Negeri 3 Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Dalam perjalanan kami harus berhenti beberapa kali, sebab saya dalam keadaan mengandung anak ketiga “Ayudia Riski Alauddin”.

Kandungan saya ketika itu sudah memasuki bulan ke enam menuju bulan ke tujuh. Tak berapa lama saya mengajar di sekolah baru itu, saya pendarahan, dan pembukaan dalam kandungan saya. Ketika mengajar dalam kelas perut terasa mulas mau melahirkan, dan benar saya dilarikan ke puskesmas pembantu di desa Besmarak oleh almarhum Bapak Jeremias Bessie wakil kepala sekolah waktu itu.

Beliau bertindak sebagai atasan saya, juga mewakili suami yang tidak ada didekat saya. Bapak Bessie menanyakan keadaan kandungan saya, lalu Ibu Yanse Manafe bidan Desa Besmarak menjawabnya, “Sudah pembukaan dua Bapak, bagaimana ini Bapak?...”, kami tidak ada alat-alat yang memadai di sini, keadaan waktu itu PUSTU Desa Besmarak masih belum lengkap pelayanannya. Ibu Yanse bertugas sendirian.

Almarhum Bapak Jeremias Bessie, BA (Paling kanan berdiri sendiri), Wakil Kepala Sekolah yang membawa saya ke PUSTU (Puskesmas Pembantu) Desa Besmarak ketika saya pendarahan di dalam kelas, akan melahirkan anak ketiga.


Betapa beban perjalanan ke sekolah yang tidak mudah ketika itu, jarak tempuh yang sangat jauh dengan kondisi berbadan dua, naik sepeda motor butut yang duduk dibelakang nungging kedepan, benar-benar terasa berat bagiku kala itu.

Betapa beban perjalanan ke sekolah yang tidak mudah ketika itu, jarak tempuh yang sangat jauh dengan kondisi berbadan dua, naik sepeda motor butut yang duduk dibelakang nungging kedepan, benar-benar terasa berat bagiku kala itu.

Teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu, calon anak keenam saya keguguran diatas sepeda motor dalam perjalanan pulang sekolah, setelah beberapa hari saya naik pesawat mengantar dan memberikan bimbingan dan pembinaan kepada pengurus wilayah Wanita Islam Kabupaten Ende Flores tentang pembelajaran Keaksaraan Fungsional dengan di ikuti penyerahan dana sebanyak 5 kelompok warga belajar buta aksara di Kabupaten Ende.

Hari itu saya bersama ke tiga anak saya, pulang dari sekolah melaju dengan kecepatan tinggi menuju LPMP NTT. Mengejar waktu untuk bisa berjumpa pejabat kepala LPMP NTT Bapak Drs. Ismail Kasim. Ketika saya turun dari sepeda motor, terasa ada sesuatu yang aneh dalam tubuh saya, tetapi saya merasa nyaman saja, karena saya sedang hamil empat bulan menuju bulan ke lima.

Begitu keluar dari ruang kepala, pas di depan pintu saya melihat darah yang begitu banyak di bagian bawah baju. Melihat keadaan itu saya tak boleh panik, sebab diatas sepeda motor ada 3 anak saya . Ayu berteriak, “Mama ada darah di baju Mama”, lalu diikuti tangisan kedua adiknya Iqbal dan Riski yang masih balita, mereka berdua menangis karena melihat mamanya keluar dari ruang kepala LPMP NTT dengan baju bagian bawahnya berdarah-darah.

Sebagai mama yang bertanggung jawab terhadap mental anak-anaknya, saya memberikan kekuatan pada ketiga anak saya. “Amaaan, mama tidak apa-apa”, jawab saya kepada mereka. Kondisi saat itu memang tidak sakit, dengan darah terus keluar saya laju sepeda motor dengan 3 anak di belakang tanpa mempedulikan sekeliling saya. Tujuan saya mengantar anak pulang sampai rumah, dan mencari bantuan atas kandungan saya yang sudah berdarah-darah sepanjang perjalanan dari kantor LPMP NTT menuju rumah di Namosain.

Itulah kisah perjalanan sekolah yang sungguh sangat jauh bagi saya. Ketika itu, perjalananku mencari sekolah tempat mengajar masih kami cari terus dimanakah Desa Besmarak itu?..., dimanakah SMP Negeri 3 Kupang Tengah itu?. Setiap berhenti untuk istirahat, kami bertanya kepada yang bisa kami tanyai tentang Desa Besmarak, tentang SMP Negeri 3 Kupang Tengah.

Setiap kali bertanya kepada orang, selalu mereka menjawab, “Sudah dekat pak, lurus saja terus, nanti ada belokan ke kiri jalan aspal, bapak belok kiri. Nah sampai di situ bapak dan ibu bertanya lagi”. Beberapa kali berhenti dan bertanya selalu di jelaskan seperti itu, padahal sekolah itu masih jauh untuk ukuran kami waktu itu. Hingga hampir putus asa, kami berdua akan balik pulang ke rumah. Jarak yang tidak dekat untuk ukuran kami, apalagi saya dalam keadaan mengandung anak ketiga pada bulan keenam lebih beberapa minggu.

Ketika kami telah lelah bertanya, dan hendak kembali pulang ke rumah, tiba-tiba dari kejauhan kami melihat segerombolan anak-anak berbaju putih biru. Suami berteriak, “Itu maa…, ada anak SMP bergerombol, kita tanya kepada mereka dulu. Jika sekolah itu yang dimaksud kita datangi maa, jika bukan kita pulang ke rumah. Besok kita cari lagi maa.” Begitu kata suami ketika itu.

Perjalanan yang sangat jauh, sudah menyurutkan niat saya untuk mengajar di sekolah itu. Alhamdulillah, pada seragam anak-anak itu tertera SMP Negeri 3 Kupang Tengah. Kami bertanya kepada mereka, “Dimana sekolah kalian?...” Mereka menjawab hampir bersamaan, “Naik keatas lurus saja, nanti ada kantor Desa Besmarak, ada belokan kiri jalan aspal, di belakang kantor desa, jalan sedikit saja, itu sekolah kami”.

Rupanya anak-anak desa sudah terbiasa berjalan kaki, dan bagi mereka jalan yang kami tanyakan sejak di awal tadi memang dekat. Ha ha ha . . . Hal ini saya rasakan sendiri ketika saya berkunjung pada anak-anak yang lama tidak masuk sekolah. Sejak awal saya menjadi guru pada SMP Negeri 2 Nekamese yang telah berganti nama beberapa kali. Peserta didik kami memang bertempat tinggal sangat jauh dari sekolah, dan mereka berjalan kaki ketika pergi dan pulang dari sekolah.

Foto ketika pertama menjadi guru di desa sesuai SK penempatan tugas, sekarang telah berganti nama SMP Negeri 2 Nekamese, Kabupaten Kupang NTT.


Jarak tempuh dari rumah tempat tinggal mereka ke sekolah membuat anak-anak dari desa yang jauh dari  sekolah, enggan ke sekolah apabila bangun kesiangan. Karena hal inilah ada beberapa anak didik kami yang suka tidak datang ke sekolah tanpa alasan. Mereka anak desa, yang jika bangun kesiangan akan terlambat ke sekolah dan kena sanksi dari guru piket.

Mereka sebenarnya suka ke sekolah dan senang serta bahagia berada di sekolah, berkumpul dengan teman-temannya dari desa yang lainnya, tetapi jika bangun kesiangan mereka akan terlambat tiba di sekolah. Rasa malu kena sanksi dan rendahnya harga diri mereka di berikan hukuman mencuci WC sekolah, serta membersihkan halaman sekolah, serta mencabut rumput halaman depan kantor guru, tak jarang hal itu di saksikan oleh teman sebayanya sehingga mereka malu untuk datang terlambat ke sekolah. Mereka memilih untuk tidak pergi ke sekolah, dan membantu orang tuanya berkebun, atau beternak sapi, kambing, dan babi serta ayam.

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

 Gambar 4

Keterangan gambar :

Salah satu murid yang orang tuanya tinggal di Kabupaten Rote Ndao. Muridku tinggal bersama Neneknya di Kabupaten Kupang (Gambar 2 & 3), inilah pekerjaan anak desa, yang rata-rata menjadi peternak sapi bagi keluarganya. Gambar di atas murid kelas VIII sedang memberikan makan sapi milik Pamannya yang dipanggil OM (Gambar 1). Pada gambar 4, saya sedang mengajar di Rumah Bapak Jonh Sakau. Kelompok Wilayah Gang Baru Desa Tunfeu, Kelas VII, materi “Perumusan dan Penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara”.

(Dokumentasi Pribadi ketika keliling dari desa ke desa musim pandemi covid – 19, sebagai laporan tugas BDR, guru keliling dari desa ke desa memberikan pelajaran dari rumah ke rumah dan memberikan tugas mandiri, pada tanggal 27 Juli 2020).


Singkat cerita saya akhirnya mengajar di SMP Negeri 3 Kupang Tengah sejak hari itu, dan sekolah tempat saya mengabdikan diri sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dari nama awal dalam Surat Perintah Bertugas, hingga hari ini. Sekolah tempat saya mengajar sudah berganti nama sebanyak 2 kali, dari nama SLTP Negeri 3 Kupang Tengah, menjadi SMP Negeri 7 Kupang Tengah, lalu berganti nama menjadi SMP Negeri 2 Nekamese hingga hari ini.


Foto di area sekolah SMP Negeri 2 Nekamese Kabupaten Kupang NTT, lokasi bekas laboratorium yang tidak difungsikan lagi, dan menjadi aula sekolah serta perpustakaan baru kami.

Foto di lapangan upacara


Suka duka saya lalui bersama anak desa, peserta didik dan keluarga, jarak tempuh yang sangat jauh saya lalui hingga hari ini 23 tahun. Waktu yang tidak sedikit untuk sebuah pengabdian sebagai guru di desa Besmarak, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Dengan jarak tempuh 24,5 Km sekali jalan, pulang pergi dari rumah usai sholat subuh, ke sekolah dan kembali lagi ke rumah pada sore hari dengan total perjalanan sehari 49 Km, bersama dengan sepeda motor butut saya Honda Supra Fit Tipe NF 100, keluaran tahun 2007 (tahun pembuatan/rakitan tahun 2007).

Saya terus bersemangat untuk mengajar peserta didik saya di desa. Sambil memberi inspirasi kepada anak didik, saya mengabdikan diri menjadi pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia Wilayah NTT (AGUPENA NTT). Serta menjadi narasumber teman guru se tanah air melalui kelas WAG MBI (Kelas belajar menulis buku inspirasi). Menulis pasti menjadi buku ber-ISBN (International Standard Book Number). Kegiatan dalam KELAS WAG MBI adalah ide/gagasan yang timbul dalam diri saya atas keprihatinan teman-teman yang berhenti pada pangkat dan golongan IV/a begitu lama. Hal ini karena banyak sahabat guru yang tidak paham syarat untuk naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi dari golongan pangkat III/c keatas.

Sebagai guru yang juga pernah mengalami nasib sama seperti sahabat guru se-Indonesia, saya membuka kelas tersebut dengan melatih menulis pasti menjadi buku yang ber-ISBN. Dengan passion diri saya “Menulis semudah ceplok telur”. ISBN adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN yang terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit.

Salah satu syarat untuk naik pangkat ke jenjang berikutnya seorang guru harus menulis buku yang ber-ISBN. Dalam kelas yang telah saya gagas seorang diri ini, akhirnya dapat menemukan tim kreatif yang dapat membantu saya bekerja bersama-sama, untuk memberikan inspirasi menulis pasti menjadi buku yang ber-ISBN sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat guru dari golongan IV/c ke IV/d.

Perjalanan hidup yang saya landasi dengan ibadah kepada Allah Swt, tanpa pamrih dan tanpa harus menjilat atasan, serta sikut kiri dan kanan. Menjadikan saya pribadi yang sabar dan ikhlas dalam menjalankan tugas tanpa memiliki ambisi apapun kecuali mengharap ridho Allah semata. Dengan terus memiliki jiwa inspirasi serta membuat sekitar saya menjadi cerdas dengan banyak membaca dan meningkatkan kompetensi diri. Saya begitu percaya diri dengan hanya menjadi guru di desa, dan tetap memiliki kharisma serta dikenal banyak orang terutama para guru se-Indonesia.

Saya bangga menjadi guru desa, dan tak memiliki ambisi apa pun kecuali mengajak orang meningkatkan kompetensi diri dengan tetap berpegang pada kebenaran dan kejujuran yang hakiki. Saya benar-benar menanamkan rasa percara diri dalam diri saya pribadi, bahwa menjadi hebat itu tidak harus menjadi pejabat. Apalah arti menjadi pejabat, jika itu dihasilkan dari menjilat atasan, sikut kiri, sikut kanan, dan fitnah orang tanpa alasan, serta menginjak bawahan. Bagiku itu hal yang tak manusiawi, dan sangat tak layak untuk saya lakukan.

Pertanggung jawaban atas pekerjaan dan upah yang saya terima akan saya pertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt kelak, ketika saya menuju hari keabadian. Bukan kepada atasan atau kepala dinas saya. Karena hal itulah, saya harus benar-benar bekerja dengan hati yang ikhlas lahir batin tanpa mengharapkan pujian apalagi jabatan yang hanya sementara sifatnya.

Perjalanan hidup yang berliku-liku telah saya lalui dengan terus bergembira menjalankan aktivitas saya sebagai guru desa. Saya tak pernah hiraukan apa kata orang kepada saya. Apa pun itu, saya tetap memperhatikan dan terus memberikan inspirasi kepada peserta didik juga sahabat yang memiliki hobi menulis serta mau membangun diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Prinsip hidup saya adalah bagaimana kita bekerja dengan sabar dan setulus hati mengharapkan ridho Allah semata, dan terus berjuang untuk kemaslahatan umat.

Bekerja bukan untuk dilihat orang, dan tak perlu mencari penilaian orang terhadap kinerja kita. Bekerja… bekerja… bekerja… dan bekerja itulah yang saya lakukan selama bertahun-tahun di SMP Negeri 2 Nekamese di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Langkah seribu diawali dari langkah pertama. Saya memiliki hobi menulis, dan tulisan saya pertama ini membawa saya pada mimpi saya yang telah terwujud saat ini, yaitu menjadi guru yang juga menjadi penulis buku.



Surat Keterangan dan Cover Majalah FORWAS

(Saya sebagai Penulis artikel tentang Pendidikan)




Pada halaman 24 – 26 tertulis karya sederhana saya dan identitas sekolah SMP Negeri 2 Nekamese, Kabupaten Kupang. Inilah kebanggaan saya menjadi penulis artikel pendidikan yang tembus majalah di ibukota Negara, dengan membawa nama harum sekolah.

Halaman 24


Halaman 26



Ketika saya berhasil menorehkan buah karya saya, berupa hasil pemikiran yang sederhana dalam tugas guru sehari-hari, saya terus belajar dengan banyak membaca buku. Ketika itu, saya belum tahu apa makna dari membaca buku, yang saya tahu, saya terus belajar, dan belajar, dengan membaca buku dan terus membaca. Sementara disekeliling saya, sibuk dengan ambisinya untuk meraih apa yang menurut saya tak perlu untuk kita cari-cari.

 

Yang kejam lagi, mereka meraih ambisinya dengan cara yang tak wajar, menjilat atasan, sikut kiri dan sikut kanan, lalu injak kami bawahan, serta fitnah yang kejam. Saya terus berlari mengejar ketertinggalan saya dalam dunia pendidikan. Semakin saya banyak membaca buku, semakin saya merasa tertinggal, betapa banyaknya perubahan dan ilmu pengetahuan yang saya tidak kuasai. Dari rasa tidak tahu, saya tulis satu persatu hingga menjadi sebuah makalah dan layak untuk di seminarkan. 


 Surat tugas menjadi pemakalah seminar tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur 


       Surat tugas sebagai pemakalah ini adalah langkah kedua saya tampil di publik sebagai pembicara seminar tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya membawa nama harum sekolah tempat saya mengabdi sebagai guru PPKn kelas VII hingga kelas IX. Sebagai pemakalah dari seorang yang berprofesi sebagai guru yang pertama dan satu-satunya pada puncak acara kegiatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional di LPMP NTT ketika itu.

Pada materi dengan judul : “Profesionalisasi Guru Menuju Insan Cerdas dan Kompetitif”, pada seminar ini saya bersama Prof. Frans Umbu Datta ketika itu beliau adalah Rektor Universitas Nusa Cendana. Makalah beliau, “Upaya Peningkatan Mutu, Relevansi dan Daya Saing dalam Pembangunan Pendidikan di Nusa Tenggara Timur”. Rasa bangga bisa menjadi pemakalah seminar tingkat Provinsi dan bersanding bersama Profesor bidang sains dari perguruan tinggi negeri terbaik se-Nusa Tenggara Timur.


Sertifikat pertama sebagai pemakalah seminar pendidikan di LPMP Nusa Tenggara Timur





Ada yang lucu pada kejadian seminar ini, honor saya lebih besar dari honor seorang guru besar bergelar Profesor. Sempat menjadi perbincangan setelah kegiatan dan makan siang bersama. Dalam perbincangan tersebut Kepala LPMP NTT (Bapak Drs. Ismail Kasim), menyampaikan bahwa, hal itu terjadi karena tempat tugas saya diperhitungkan berdasarkan jarak unit kerja dengan tempat kegiatan Aula LPMP NTT. Maka terjadilah kelebihan biaya transport dan akomodasi. Saya mendapatkan dukungan penuh dari Bapak rektor (Prof. Frans Umbu Datta), beliau berpesan agar saya terus belajar supaya ke depan lebih baik lagi. Dorongan semangat dari beliau memacu diri saya untuk terus belajar, belajar, belajar, dan belajar.


Semua kenangan indah saya dalam meniti karier sebagai guru professional saya abadikan, termasuk amplop honor tertinggi saya sebagai narasumber seminar “HARDIKNAS 2008 SEBAGAI BAGIAN DARI PERINGATAN 100 TAHUN KEBANGKITAN BANGSA” ini.




Dari pengalaman menjadi pemakalah seminar tingkat Provinsi NTT, saya dihubungi oleh pihak kampus Universitas Negeri Malang, Bapak Dr. Istamar Syamsuri beliau Dekan Fakultas MIPA. Beliau menawarkan kepada saya menjadi pemakalah seminar nasional. Ketika dihubungi via telepon, ketika itu WhatsApp belum popular, saya menjawab dengan penuh percaya diri. Padahal makalah yang mau di seminarkan belum punya, percaya diri saja dan Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Menjadi pemakalah seminar Lesson Study tingkat nasional dengan keynote speaker tenaga ahli dari Negara Jepang, saya lewati dengan baik meskipun ada sedikit kendala kesehatan setelah itu. Kejadian demi kejadian saya membawa nama Nusa Tenggara Timur di tingkat nasional, dan Kabupaten Kupang di tingkat Provinsi NTT. Secara keseluruhan saya membawa nama SMP Negeri 2 Nekamese, Desa Besmarak, Kecamatan Nekamese di Kabupaten Kupang.

Dari kegiatan ini saya memiliki 3 Prosiding, Alhamdulillah rasa syukur tak pernah berhenti saya panjatkan kepada Allah atas anugerah yang ini. Semua prosiding tersebut hingga kini tersimpan rapi sebagai arsip di perpustakaan Univrsitas Negeri Malang Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Saya memiliki masing-masing 1 prosiding sebagai arsip pribadi, juga sebagai bahan belajar saya menulis Best Practise juga PTK (Penelitian Tindakan Kelas).

Dalam setiap kegiatan baik di tingkat Provinsi maupun tingkat Nasional saya selalu membawa nama baik SMP Negeri 2 Nekamese, dari SK awal terbit hingga tahun 2020. Baik dalam pembelajaran di kelas dengan segala keterbatasannya, maupun kegiatan ekstra kurikulernya.




Saya ketika silahturahmi ke UM mencari prosiding yang ada tulisan saya, untuk bahan DUPAK naik pangkat, tampak tulisan saya tercantum dalam daftar isi.


Prosiding kedua saya dari Universitas Negeri Malang


Prosiding ketiga saya dari Universitas Negeri Malang


Setelah seminar demi seminar sebagai pemakalah, baik tingkat Provinsi NTT hingga Nasional, saya beranikan diri untuk mengikuti lomba tingkat Nasional, kali ini saya ikuti lomba guru inspirasi dengan tema : “My Teacher My Hero Award Indonesia Digital Learning” bersama Telkom dan Intel Prosessor pada tahun 2015. Ini kali pertama saya ikut lomba dan menjadi juara kedua tingkat Nasional. Rasa bangga kembali menyelimuti hati saya. Meleleh air mata haru pada setiap moment yang saya lalui nyaris tanpa dukungan kepala sekolah. Semua kegiatan saya ceritakan kepada kepala sekolah, tetapi sambutan kepala sekolah sebagai pimpinan biasa-biasa saja.

Pernah saya putus asa ketika menyelesaikan bahan presentasi, semua kegiatan guru yang kita presentasikan adalah hasil karya kita dalam dunia menulis, dan tulisan itu adalah cerminan kinerja kita di sekolah. Tanpa dukungan di tingkat awal (sekolah), rasanya sulit bagi kita untuk bisa bersaing. Rasa percaya diri dalam dada yang membuat saya begitu berani melangkah sendiri untuk sebuah prestasi diri, juga memberikan tauladan kepada para peserta didik saya.

Setiap rasa putus asa itu datang melanda jiwa saya, tempat saya curhat adalah sajadah panjang alas sholat milik saya yang setia menemani dalam suka dan duka sebagai musafir di muka bumi ini. Saya bentangkan sajadah panjang saya, dan saya tunaikan kewajiban saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Saya mengadu, curhat, dan mohon bimbingan serta perlindungan atas apapun yang saya lakukan, agar Allah berkenan dan meridhoi apa pun yang saya lakukan.

Dari kekuatan doa dan pengharapan saya kepada Allah Swt, menjadikan saya pribadi yang luar biasa. Di luar sana banyak yang berbicara tentang saya, tetapi saya tak mau tahu hal itu. Sebab jika saya menanggapi hal itu (pembicaraan orang tentang saya), akan banyak menguras energi dan pikiran saya. Lebih baik saya menuliskan apa yang ada di pikirann juga hati saya untuk memberikan inspirasi yang positif kepada semua umat di muka bumi ini.

Keberanian dan mental baja serta percaya diri yang kuat, saya berhasil melampaui ujian demi ujian hingga prestasi itu saya raih dengan hanya bergantung kepada Allah Azza wa Jallah, anugerah indah ini begitu berkesan sepanjang hidup saya. Pertama ikut lomba dan juara kedua, bukan juara di tingkat kabupaten, tetapi langsung menjadi juara dua tingkat nasional. Subahanallah…

Materi dalam lomba itu adalah kegiatan saya sebagai guru desa yang diberikan tugas tambahan sebagai instruktur Kabupaten Kupang. Ide sederhana yang saya kemas dalam tulisan inspirasi dan mendapatkan perhatian dewan juri serta harus saya presentasikan di hadapan peserta seluruh Indonesia juga panitia penyelenggara dan dewan juri yang terhormat. Akhirnya mendapat simpati dari dewan juri dan menjadi juara kedua.



Hari kami mulai lomba, saya tampil penuh percaya diri walau hanya satu-satunya dari NTT, jika saya gagal tak ada nama terukir dalam lomba ini


Saya juara kedua tingkat Nasional hadiah laptop dan sejumlah uang tunai

Foto kenangan bersama 45 finalis seluruh Indonesia


Tahun 2020 adalah tahun dimana kita semua berjuang melawan covid-19. Tak terkecuali kami di Desa Besmarak, SMP Negeri 2 Kabupaten Kupang NTT. Keadaan sekolah yang berada di desa, membuat kami tak bisa melakukan tatap muka juga melakukan pembelajaran melalui jaringan internet. Masyarakat di desa tempat saya mengajar tidak memungkinkan untuk belajar dengan menggunakan HP. Maka solusinya kami berkunjung dari rumah ke rumah, dari desa ke desa, dengan jalan desa yang bermacam-macam.

Perjalanan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) kami tempuh dengan sepeda motor. Suka duka perjalanan PJJ kami rekam dalam tulisan sekolahku ini dengan harapan menjadi kenangan indah bagi saya menjadi guru desa dengan segala keterbatasannya. Agar menjadi kenangan terindah dalam hidup saya sebagai guru desa di Nusa Tenggara Timur, saya bangga menjadi guru desa!.


Perjalanan PJJ saya dan salah satu rumah peserta didik di desa Oemasi, di bawah ini rumah pusat belajar dari berbagai desa se-kecamatan Nekamese, Kab, Kupang.


Tampak dari depan rumah peserta didik di desa Oemasin Kuaputu Kecamatan Nekamese

Tampak dari dalam rumah peserta didik beralaskan tanah


Rumah Peserta didik di desa Oben kelompok belajar kelas 8


Kelompok belajar di Desa Biupu 

Kelompok belajar di desa Noelsinas, Kecamatan Nekamese


Belajar di bawah pohon bersama peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Nekamese


Usai belajar minta tanda tangan orang tua sebagai pengganti guru bagi putra-putrinya, dan sebagai bukti fisik guru berkunjung dari rumah ke rumah dan dari desa ke desa se-kecamatan Nekamese Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT)

Kondisi masing-masing kelompok belajar kami bervariasai, ada yang rumahnya keramik, ada yang rumahnya berlantai tanah, dan ada yang kami belajar merasa nyaman di bawah pohon. Karena kondisi tak memungkinkan saya untuk masuk rumah dengan anjing yang berkeliaran dalam rumah dan mengendus siapa pun yang masuk rumah tuannya. Sementara itu hak belajar peserta didik tetap harus terlayani dengan baik, maka saya memilih belajar di bawah pohon dan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Usai belajar kami minta tanda tangan orang tua untuk mengawal putra putrinya belajar dari rumah saja. Inilah kami dari SMP Negeri 2 Nekamese.





Profil Penulis 


Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H., sewaktu kecil biasa disapa Mbak Pipin. Lahir di Surabaya, 11 Maret 1969. Anak pertama dari pasangan alm. Bapak Kaimin Herly Sutikno, BA bin Mbah Martho Siram bin Mbah Kromonadi (Ketua Yayasan Pendidikan dan Kepala Sekolah Dasar “YP. Kesuma”  Surabaya), dan Ibu Sukijah binti Mbah Gito Kaiman (Kepala Taman Kanak Kanak “Yayasan Pendidikan Kesuma” Surabaya).

 

Memiliki hobi membaca, menulis, traveling, dan berenang. Pendidikan terakhir program Sarjana S1, FKIPS Jurusan PMP/Kn, IKIP PGRI Surabaya dan program Sarjana S1, Fakultas Hukum, Jurusan Ilmu Hukum, Universitas Wijaya Putra Surabaya.

 

Berprofesi sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMPN 2 Nekamese, Desa Besmarak, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Instuktur Provinsi NTT pada Mata Pelajaran PPKn Jenjang SMP Kurikulum 2013. Narasumber literasi daerah perbatasan. Narasumber literasi tingkat nasional bersama PGRI Pusat (dalam kelas belajar menulis bersama Om Jay, Blogger Ternama Indonesia).

 

Prestasi yang pernah diraih yakni Juara kategori kedua tingkat Nasional dalam Lomba Guru “My Teacher My Hero Award Indonesia Digital Learning Tahun 2015” Bersama Telkom dan Intel Prosessor. Penggiat literasi Nusantara dan motivator menulis buku.

 

Mulai serius menekuni dunia menulis sejak bergabung dengan Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Wilayah Nusa Tenggara Timur, sejak berdirinya di NTT pada tanggal 15 Desember 2014 sebagai pendiri dan menjadi pengurus inti.

 

Penulis artikel pada majalah :

Ø FORWAS (Majalah Forum Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional), Forum Pengawasan Nomor 26/XII/2007, dengan judul “Peran Guru Sebagai Organisator & Administrator.” Pada halaman : 24, 25, dan 26.

 

Penulis Karya Tulis Ilmiah pada Prosiding :

1.    Karya tulis yang berbentuk makalah ilmiah yang di seminarkan tingkat nasional, di Universitas Negeri Malang pada tanggal : 9 Oktober 2010, dimuat & diterbitkan pada PROSIDING, dengan ISBN : 978-602-97895-0-8, dengan Judul : “Pendukung dan Kendala dalam Menyelenggarakan Lesson Study di Kabupaten Flores Timur.” di muat pada Makalah Umum.

2.    Karya tulis berbentuk makalah ilmiah populer yang di seminarkan tingkat nasional, di Universitas Negeri Malang pada tanggal : 12 November 2011, karya tulis ilmiah diterbitkan pada PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY IV, dengan ISBN : 978-602-97895-5-3, dengan judul : “Peran Lesson Study dalam meningkatkan profesionalisme pendidik dan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 2 Nekamese, Kabupaten Kupang.” di muat pada Makalah Umum.

 

Penulisan Karya Tulis Ilmiah pada Jurnal Ilmiah PEN@ GURU Agupena NTT :

1.    Nomor 08 Tahun V, edisi khusus Hari Guru Tahun 2019, dengan judul Best Practise: “Membangun Budaya Menulis Guru Sasaran PPKn Melalui Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi di Kabupaten Kupang”

2.    Nomor 12 Tahun VI, edisi khusus Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020, dengan judul Best Practise : “Facebook sebagai kelas bagi peserta didik Pada Masa Pandemi Covid-19 Di SMP Negeri 2 Nekamese Kabupaten Kupang”

3.    Nomor 14 Tahun VI, edisi khusus Hari Kemerdekaan RI Tahun 2020, dengan judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK): “Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning pada Materi Peraturan Perundang-undangan untuk meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Peserta Didik Kelas VIIIC SMP Negeri 2 Nekamese”.

 

Penulis buku tunggal :

1.    GURU adalah INSPIRASI serial “Pelita Kampung Beta Jejak Juang Guru Desa di NTT” dan menjadi buku Best Seller Nusantara.

2.    Melejitkan Berpikir Tingkat Tinggi PPKn Melalui Discovery Learning.

3.    GURU adalah INSPIRASI serial “Menulis Blog itu Keren”

 

Penulis buku Antologi :

1.    Ukir Prestasi Tebar Inspirasi, Surakarta, Jawa Tengah (27 September 2020)

2.    Secercah Harapan dalam Keterbatasan, Sukoharjo, Jawa Tengah (6 Oktober 2020)

3.    Pahlawan Dalam Hidupku, Solo, Jawa Tengah (Oktober 2020)

4.    Berbagi Kisah Inspirasi Menuju Sukses,

Antologi Belajar Menulis Bersama Bunda Lilis. Sukoharjo, Jawa Tengah (Oktober 2020)

5.    Merdeka Belajar Kisah Inspiratif,

Antologi Belajar Menulis Bersama Bunda Lilis. Sukoharjo, Jawa Tengah (Oktober 2020), Sukoharjo Jawa Tengah (Oktober 2020)

6.   Hadiah Untuk Bundaku Jilid 1

Antologi Persembahan Khusus Buat IBU, Bersama “KELAS WAG MBI” Bunda Lilis Sutikno. Sukoharjo Jawa Tengah (Desember 2020)

7.    Memberi Insprasi Untuk Negeri, Antologi Kisah WIT 2020 Bersama Bunda Lilis Sutikno. (Maret 2021)

8.    Sekolahku Ladang Amalku, Antologi Cerita Tentang Sekolahku Bersama KELAS WAG MBI Bunda Lilis Sutikno. (Maret 2021)

 

Editor Buku :

1.    Antologi Puisi “Cinta Tergerai” Karya Bergita Kapa, S.Pd

2.    Antologi Puisi “Mimpi dan Cita-citaku” Karya Maria Stefania Tanggela

3.    Antologi Puisi “Beringin Tua” Karya bersama peserta didik SMP Katholik Tunas Harapan Santo Petrus Lahurus Atambua Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

4.    Antologi Puisi “Celotehan Hati Terselatan Indonesia” Karya Agus Hartatik, S.S., M.Pd

5.    Antologi Puisi “Mengungkap Nuansa Makna Lewat Goresan Puisi Jilid 1” Karya Maksuddin, S.Pd., M.Hum

6.    Antologi Puisi “Coretan Pena Sang Musafir” Karya Suster Modesta Abuk Manek, SSpS., S.Pd

7.    Antologi Puisi “Generasi Melineal to Generasi Covid-19” Karya bersama Dra. Rukmini Dwi Wanti, Prof. Pujiati,M.Soc. Sc.,Ph.D, Suster Modesta Abuk Manek, SSpS., S.Pd

8.    Berdaya Menghadapi Tantangan Era Pandemi, “Kisah guru kreatif menghadapi tantangan mengajar Era Pandemi Covid-19”. Karya Mulyani, S.Pd

9.    Panggil Aku NUS, “Kisah Inspirasi Perjalanan Manusia Dalam Bimbingan Tuhan”. Karya Nophita Nusyati Natujelita Ataupah, S.Pd.

 

Blog : www.guruinspirasintt.com ,

Facebook : Lilis Sutikno (Mbak Pipin) ,

Alamat email : ibugurucantik@yahoo.com         

                       lilissutikno69@gmail.com

 

Dapat dihubungi pada nomor HP/WA: 082 226 376 157







Komentar

  1. YA ALLAH BUNDA , TAK SANGGUP SAYA BICARA... tak sanggup. sukses dan sehat selalu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS BUKU SEMUDAH MEMBUAT CEPLOK TELUR

SUAMI DAN KERIDHOANNYA (K.H. Maimun Zubair)

NGE-BLOG itu KEREN