PERTEMUAN KE-11 KBMN PB. PGRI

 

MENGELOLA MAJALAH SEKOLAH

Merupakan suatu kebanggaaan jika sekolah kita memiliki Majalah Sekolah sendiri. Banyak manfaat yang didapatkan. Media komunikasi, promosi, publikasi dan wadah kreativitas guru dan siswa. Tapi.... Apa mungkin sekolah saya bisa memiliki majalah sendiri yaa??? Bagaimana caranya??? Darimana biayanya??? Daripada galau dengan segala pertanyaan diatas, lebih baik kita temukan jawabannya di kelas belajar malam ini. Okay, segera masuk kelas yuuk...!!!

Motivasi dari moderator malam ini, ibu Mutmainah, M.Pd memberikan semangat bagi peserta. Termasuk saya juga, yang ketika kegiatan berlangsung sedang berhalangan duduk manis di depan laptop.

Itu artinya saya tidak ikut kuliah pada hari ke-11 KBMN gelombang ke-28. Tak menyurutkan niat tetap bisa lulus dan mendapatkan sertifikat Diklat dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara Pengurus Besar PGRI. Saya harus cerdas dalam menyelesaikan tugas-tugas saya dengan baik.

Langkah pertama adalah saya membuka blog teman-teman yang di share dalam kelas KBMN gelombang ke-28, pertemuan ke-11. Saya baca satu persatu lalu saya ramu kata demi kata serta kalimat demi kalimatnya. Seperti meramu jamu agar tubuh kita menjadi sehat dan kuat.

Materinya sangat menantang saya sebagai kepala sekolah, untuk memiliki majalah sendiri di SMP Negeri 3 Kupang Barat. Saya tidak memikirkan tentang hambatannya, yang saya pikirkan bagaimana anak desa juga bisa sama dan sejajar dengan anak kota. Memiliki kecerdasan yang sama pula.

Bagi saya tak ada bedanya sekolah di desa dan di kota. Karena hal itu, saya berjuang mereka sama dengan anak kota. Berbagai upaya terus saya perjuangkan untuk anak dusun 3 Oeli’i, desa Oematnunu, kecamatan Kupang Barat, kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur.

Setelah menerbitkan buku antologi puisi pada tanggal 25 Januari yang ditayangkan di TVRI NTT, pada berita sore, pada hari itu juga. Dan ditayangkan ulang pada dunia literasi pada hari Sabtu, 28 Februari 2023 (dalam versi siaran dan syuting yang berbeda). Sungguh ini merupakan kebanggaan bagi kami semuanya. Silahkan lihat aktivitas anak kami di dusun 3 Oeli’i desa Oematnunu pada halaman referensi di bawah tulisan ini.

Buku telah anak-anak miliki, dalam waktu kurang lebih enam bulan menjabat sebagai kepala SMP Negeri 3 Kupang Barat kabupaten Kupang. Saya dan teman-teman guru berhasil mengantarkan anak kami menjadi penulis cilik dan memiliki buku. Langkah selanjutnya saya ingin anak-anak memiliki majalah dinding atau majalah sekolah.

Pucuk di cinta ulampun tiba. Materi malam ini adalah materi yang saya nantikan, agar saya juga dapat menerbitkan majalah sekolah. "Mengelola majalah sekolah" tema materi belajar malam ini, disampaikan dengan sangat baik oleh Ibu Widya Setianingsih, S.Ag, narasumber hebat kita. Ibu Widya Setianingsih seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Swasta Khadijah di Jalan Arjuna kota Malang Jawa Timur, sekaligus pimpinan redaksi Majalah Kharisma.

Ibu Widya adalah alumni Belajar Menulis gelombang 21 yang telah memiliki  satu buku solo berjudul “Laras Makna dalam Puisi” dan 30 antologi.  Motivasi hidup beliau adalah “You Can Do Anything If You Believe It”.

Memulai paparannya Ibu Widya Setianingsih menyampaikan motivasi yang dikemas dalam sebuah pantun, “Tak akan mundur sebelum resume meluncur. Pantang menyerah sebelum buku solo tercipta”. Narasumber menyampaikan juga bahwa kunci untuk melejitkan potensi kita untuk menjadi penulis yang produktif adalah MAU, dan dikemas dalam kalimat motivasi juga, “Bagaimanapun juga satu ons tindakan lebih berarti daripada satu ton pemikiran”. Oleh karena itu, ayo segera bersiap keluar dari zona nyaman untuk menyambut kesuksesan.

Untuk menjadi MAU, semua berpulang pada diri kita masing-masing. Tanyakan pada hati kita, apa yang akan kita torehkan dalam hidup ini? Apa yang bisa kita berikan pada anak cucu untuk mengenang kita? NIAT dan KOMITMEN itu kuncinya. Bergabung dengan komunitas menulis akan menjaga niat kita menulis tetap menyala.

Jadikan keinginan mau menulis sebagai suatu kebutuhan. Jadikan keinginan menulis seperti UDARA yang akan membuat kita sesak nafas tanpanya. Jadikan menulis sebagai RENJANA yang membuat kita ketagihan jika tidak menulis.

Pada kesempatan ini narasumber berbagi pengalaman seputar majalah sekolah. Majalah sekolah merupakan media komunikasi yang diterbitkan di lingkungan sekolah. Isi majalah sekolah berkaitan dengan kepentingan komunikasi pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Majalah sekolah berfungsi sebagai sarana ekspresi dan berkreasi bagi peserta didik untuk mengungkapkan gagasan yang dia tulis dalam bentuk artikel, cerita pendek, atau puisi. Selain itu, peserta didik juga berlatih untuk menulis sebuah laporan berdasarkan wawancara.

Setiap sekolah tentu ingin dikenal oleh khalayak luas. Baik sekolah negeri, lebih-lebih sekolah swasta. Selain itu sebagai lembaga formal, komunikasi, promosi, dan sosialisasi dengan orang tua, masyarakat sebagai STAKE HOLDER sangat diperlukan.

Semua itu dapat terjawab dengan hadirnya majalah sekolah. Tentu sebagian dari kita berpikir, rasanya tidak mampu punya majalah sendiri. SDM kurang, biaya tidak ada dan dukungan dari sekolah kurang optimal. Untuk mengatasi semua itu, kuncinya jangan takut mencoba sesuatu yang baru, kerja keras, dan semangat. Kobarkan semangat dalam dada untuk mewujudkannya.

Dalam pertemuan ini narasumber juga menjelaskan langkah-langkah yang ditempuh untuk menerbitkan majalah sekolah:

1.    Menyatukan ide dan gagasan. Mencari teman-teman yang memiliki jiwa literasi dan organisasi, serta membentuk susunan redaksi majalah. Biasanya tim redaksi terdiri atas: pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, bendahara redaksi, editor, koordinator liputan, koordinator non liputan, reporter, ilustrator, dan penata letak (lay-outer).

2.    Membuat rancangan majalah, menentukan nama majalah, isi berita, pendanaan, dan lain sebagainya.

3.    Menentukan rubrik majalah yang disesuaikan dengan kebutuhan majalah. Beberapa rubrik tertentu juga bisa ditampilkan sebagai ciri khas dari majalah. Beberapa rubrik untuk majalah sekolah di antaranya:

a)      Laporan utama atau fokus utama.

b)      Berita tentang kegiatan-kegiatan di sekolah.

c)      Artikel atau kolom (bisa diisi oleh guru dengan tema bebas atau bisa sesuai dengan fokus utama maupun tema lainnya).

d)     Wawancara. Misalnya wawancara dengan Kepala Dinas Pendidikan terkait persiapan Ujian Nasional (UN).

e)      Profil tokoh inspiratif (bisa diisi dengan guru atau peserta didik yang berprestasi di sekolah. Siapa pun yang bisa menjadi inspirasi dapat ditampilkan di rubrik ini).

f)       Fiksi berupa cerita pendek dan puisi. Rubrik ini memberi kesempatan yang luas bagi para peserta didik untuk unjuk karya.

g)      Dan juga rubrik-rubrik yang lain, seperti: komik atau gambar seri, resensi buku, pojok sains, english corner, klinik matematika, tips atau kiat, dan teka-teki atau kuis.

4.      Menentukan dead line, yaitu tenggat atau batas waktu yang meliputi batas waktu pengumpulan naskah, target selesai editing, maupun selesai proses tata letak dan cetak.

5.      Mengajukan dan membuat proposal yang meliputi latar belakang, tujuan, susunan redaksi, anggaran dana, dan sebagainya.

6.      Mencari rekanan pendukung, percetakan, sponsor, dan lain-lain.

7.      Melakukan sosialisasi kepada orang tua tentang manfaat dan pentingnya suatu majalah sekolah.

            Tidak kalah penting dan perlu diketahui bersama, terkait beberapa tips untuk mengelola majalah sekolah:

1)        Harus ada seseorang yang menjadi motor dan mendorong serta mengompori crew.

2)        Peserta didik perlu dilibatkan untuk ikut menulis sehingga orang tua akan senang melihat anaknya berkarya. Apabila orang tua paham dan mengerti tentang pentingnya majalah sekolah, mereka akan ikut promosi dan bangga dengan adanya majalah sekolah tersebut. Lebih-lebih jika foto anaknya terpampang di majalah.

3)        Mengatur sendiri budget majalah kita. Jika ingin menekan budget kita bisa mengurangi halamannya, bisa hitam putih tidak perlu warna.

Sebelum mengakhiri pertemuan, narasumber menjelaskan perbedaan antara majalah, tabloid, dan buletin supaya para peserta dan pembaca bisa memahami dengan baik perbedaannya:

1.      Majalah

-          Ukuran umumnya A4, Letter dan B5 atau F4.

-          Kertas yang digunakan lebih halus dan tebal (art paper/art carton).

-          Memuat artikel yang berisi topik popular bagi masyarakat umum.

 

2.      Tabloid

-          Ukuran umumnya A3.

-          Kertas yang dipakai lebih kasar dan tipis (kertas koran).

-          Cenderung mengangkat artikel tentang gosip, astrologi, berita kriminal, dan olahraga.

 

3.      Buletin

-          Ukuran umumnya F4, A5 atau A4.

-          Kertas yang digunakan lebih halus (art paper).

-          Memuat artikel yang berisi topik kejadian popular.

 

        Sahabat penulis, kita tidak akan tahu seberapa besar kemampuan kita sebelum kita mencoba menghadapi kesulitan. Tuangkan rasa cinta pada lembaga kita dengan membuat sekolah kita popular dengan hadirnya majalah sekolah. Teruslah berjuang dan yakinlah akan ada tangan-tangan orang baik yang akan menguatkan langkah kita.

Demikianlah materi  dari narasumber kita malam ini. Sangat bermanfaat dan benar-benar menginspirasi kita. Kuncinya jangan takut mencoba sesuatu yang baru. Kerja keras... Dan semangat. Selamat berkarya!.

SESI TANYA JAWAB

Pertanyaan 1:

Dari Pak Toto, di Bekasi

Assalamualaikum....

Bu Mut yang baik hati, mohon izin bertanya.

Di slide 20 ada istilah ISBN. Kepanjangannya, apa, Bu?

Jawab:

Mengacu pada WIKIPEDIA. ISBN (International Standard Book Number) adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN. ISBN terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Saat ini ISBN diganti QCRBN. Yaitu QR Code Standard Book Number adalah Aplikasi pengidentikasi buku dengan teknologi terbaru dengan QR Code sebagai pemberi identifikasi unik secara internasional terhadap satu buku maupun produk seperti buku yang diterbitkan oleh penerbit.

 

Dengan nama lain kode paten bahwa buku itu adalah karya kita yang tidak bisa di ambil atau di bajak orang lain

 

Pertanyaan 2:

Mengelola Majalah Sekolah (MS) memang tidak mudah. Betul, diperlukan kemauan kuat. Dan kadang siap apa saja. Jika tulisan terlambat datang, kitalah serepnya. Banyak contohnya untuk majalah komunitas semacam ini. Yang nulis itu-itu terus. Tetapi sebenarnya kalau kita punya tabungan naskah, enak. Setidaknya 1, atau 2 penerbitan.  Majalah kecilku dulu terbit tiap bulan, jadi sering keponthal-ponthal. Mbak Widia, majalah Sekolah dengan hard cover apa tidak mahal. Apakah Orang tua tidak berat membayarnya. wajib kan?

Jawab:

Terimakasih... 

Memang semua itu harus memiliki seseorang yang menjadi motor suatu organisasi. Yang mendorong, mengompori crew. Tetapi kita tidak perlu bersusah payah menulis sendiri. Libatkan SISWA kita untuk ikut serta menulis. Pasti orangtua akan lebih senang anaknya berkarya. 

Kita bisa memanage sendiri budget dari majalah kita. Majalah Kharisma terdiri dari 40 halaman, dengan 10 halaman berwarna. Biaya cetaknya 10 - 11 ribu saja. Jika ingin lebih menekan budget kurangi halamannya, dan bisa hitam putih tidak perlu berwarna. 

Apakah orangtua tidak keberatan??? 

Tentu tidak jika mereka paham dan mengerti tentang pentingnya majalah sekolah. Bahkan ikut promosi dan bangga dengan adanya majalah sekolah. Lebih-lebih jika foto anaknya terpampang di majalah. Bisa-bisa satu RT dipamerin semua. Ha ha ha . . .

 

Pertanyaan 3:

Dari Evridus Mangung, Peserta KBMN 28 asal NTT.

Saya tertarik dengan pernyataan awal dari narasumber di pembuka diskusi malam ini. Jika ingin menjadi penulis yang produktif maka kuncinya adalah MAU. Pertanyaannya:

Bagaimana cara menjembatani dari kondisi TIDAK MAU menjadi MAU MENULIS. Adakah tips yang narasumber bisa bagikan kepada kami peserta KBMN 28 untuk mengatasi situasi TIDAK MAU menjadi MAU MENULIS?

Jawab:

Terima kasih  pak Evridus...

Untuk menjadi MAU, semua berpulang pada diri kita masing-masing. Tanyakan pada hati kita, apa yang akan kita torehkan dalam hidup ini?

Apa yang bisa kita berikan pada anak cucu untuk mengenang kita?. Niat, dan komitmen. Itu kuncinya. 

Bergabung dengan komunitas menulis akan menjaga niat kita menulis tetap menyala. 

Mengutip pernyataan bunda Kanjeng diawal kelas dulu. 

Jadikan keinganan mau menulis sebagai suatu kebutuhan. 

Jadikan keinginan menulis seperti UDARA, yang akan membuat kita sesak nafas tanpanya. 

Jadikan menulis sebagai RENJANA yang membuat kita ketagihan jika tidak menulis. 

 

Pertanyaan 4:

Dari Indah Ratna, Banjarnegara

Assalamu'alaikum bu Widya... salam kenal dari kota dingin juga... seperti di Malang Jawa Timur.

Saya sangat tertarik dengan materi hari ini, dan ingin mewujudkan Majalah sekolah, kendalanya saya kurang menguasai langkah-langkahnya.

Untuk itu saya mohon bimbingannya, bagaimana langkah atau trik sederhana untuk membuat majalah sekolah yang simpel dan menarik, sehingga harapan nantinya mendapat dukungan dari sekolah, guru dan orang tua siswa.

Terima kasih atas pencerahnnya bu Widya.

Jawab:

Salam kenal bu Indah, dingin juga ya di Banjarnegara. 

LANGKAH-LANGKAH MENERBITKAN MAJALAH SEKOLAH:

1.      Menyatukan ide dan gagasan. Mencari teman-teman yang memiliki jiwa literasi dan organisasi. Membentuk susunan redaksi majalah.

2.      Mengajukan Proposal.

Membuat proposal meliputi latar belakang, tujuan, susunan redaksi, anggaran dana dsbnya. 

3.      Membuat rancangan majalah. Menentukan nama majalah, isi berita, pendanaan dll. 

4.      Mencari rekanan pendukung. Percetakan, sponsor dan lain-lain.

5.      Melakukan sosialisasi tentang manfaat, pentingnya suatu majalah pada orang tua.

Yoook semangat mengawali membuat majalah sekolah. Jika ingin mulai menerbitkan majalah, boleh japri saya, tulis narasumber.

 

Pertanyaan 5:

Candra dari DKI. Jakarta 

1.      Apakah ketika bunda buat kharisma, majalah itu di gratiskan artinya yang bayar sekolah atau dari orang tua.

2.      Berapa banyak halaman ideal sebuah majalah di sekolah

Jawab:

Halloo pak Candra, nice to meet you...

1.      Pada awal terbit majalah dibiayai sekolah. Sekolah mengalokasikan dana BOS untuk majalah. Saya sudah pernah cek pada juknis BOS dan ternyata ada list yang membolehkan kita mengalokasikan dana BOS untuk buku termasuk majalah. Seiring berjalan waktu orang tua menyadari pentingnya media komunikasi di sekolah. Mereka bersedia membeli majalah itu. Tidak mahal pak untuk harga 15.000 dalam waktu 6 bulan sekali. 

2.        Tebal tipisnya majalah tergantung pada kita. Misalnya tingkatan sekolah. Semakin tinggi tingkatan sekolah maka bisa ditambah halamannya. 

Kharisma sendiri adalah konsumsi anak SD, maka kami lebih banyak menampilkan foto dan gambar sebagai berita.

 

Pertanyaan 6:

Imro'atus Sholihah, Asal Jombang Jawa Timur

Maaf Ibu.... Bagaimana proses yang mudah untuk mengajukan ISSN/ISSBN?, dan apa syarat-syaratnya?

Jawab:

Assalamualaikum bu Imroatus....

Untuk Kharisma kemarin  saya minta tolong penerbit yang menguruskan. Murah kok hanya sekitar Rp. 300.000,- Syaratnya tentu ada karya sendiri dan surat pernyataan karya sendiri. 

Jika ingin mengurus sendiri, syaratnya ada 3 yaitu:

1.      Mengisi formulir surat pernyataan disertai dengan stempel penerbit dengan menunjukkan bukti legalitas penerbit atau lembaga yang bertanggung jawab (akta notaris).

2.      Membuat surat permohonan atas nama penerbit (berstempel) untuk buku yang akan diterbitkan.

3.      Mengirimkan atau melampirkan foto copi  karya kita.

 

Pertanyaan 7:

Brainly

Apa perbedaan majalah sekolah, jurnal, buletin?

Setahu sy kalau majalah itu ISSN, kalau buku baru ISBN.

Jawab:

Brainly, Perbedaan koran, majalah, tabloid, buletin adalah sebagai berikut:

Majalah

-  Ukuran umumnya A4, Letter dan B5 atau F4

-  Kertas yang digunakan lebih halus dan tebal (art   

    paper/art carton)

-  memuat artikel yang berisi topik popular bagi  

    masyarakat umum.

Tabloid

- Ukuran umumnya A3

- Kertas yang dipakai lebih kasar dan tipis (kertas koran)

- Cenderung mengangkat artikel tentang gosip, astrologi,   

  berita kriminal dan olahraga

Buletin

- Ukuran umumnya F4, A5 atau A4

- Kertas yang digunakan lebih halus (art paper)

- memuat artikel yang berisi topik kejadian popular  

Waktu pengajuan kami memakai ISBN, karena diedarkan dikalangan MI Khadijah sendiri.

 

Pertanyaan 8:

Amin Kurniawan

Bun izin bertanya kira kira ongkos cetak per bukunya berapa ya??

Jawab:

Hay pak Amin. Saat ini 40 halaman, 10 warna 11 ribu. 

Hard cover

 

Pertanyaan 9:

Assalamualaikum bu Widya, adakah cara yang paling sederhana untuk memulai membuat majalah sekolah?

Jawab:

Waalaikum salam. Bisa.. 

Yang pertama membuat mading

Biasakan mengganti mading secara berkala. 

Yang kedua buat buletin saja. Lebih sempit beritanya dan berita tidak harus terlalu luas. Sehingga tidak terlalu tebal

 

Pertanyaan 10:

Suhaimi, dari Aceh. 

Bisakah majalah yang ber ISBN mendapatkan nilai angka kredit. Minimal sejajar dengan jurnal!. Terimakasih

Jawab:

Hay Pak Suhaimi... Bisa paak. 

Pak Catur Pimred Majalah SUARA GURU PGRI pernah menyampaikan ini. Maklum saya kan bukan PNS pak Hadi tidak begitu faham dgn angka kredit.

 

Pertanyaan 11:

Masringah, Asal Banjarnegara

Ijin bertanya, ibu Widya... Alhamdulillah sekolah saya sudah punya majalah sekolah baru menerbitkan edisi ke-5 ini sejak tahun 2018, ada tim redaksi yang bertugas menulis dan menghimpun berita tentang kegiatan sekolah selama 1 tahun berjalan, namun belum mewakili setiap kelas punya rasa memiliki terhadap  majalah tersebut. Bagaimana cara yang tepat yang sudah diterapkan bu Widya, agar berita yang dimuat di majalah sudah mewakili semua kelas, atau ada tips yang bisa dibagikan majalahnya bisa eksis sudah edisi ke 23, terima kasih. Berapa harga setelah didistribusikan ke warga sekolah?. Karena majalah saya seharga 30 s.d. 35 rb, kualitas kertas berwarna dan tebal.

Jawab:

Wowww kereeen..., Sudah memiliki majalah sendiri. 

Congrats ya bunda. Untuk menggugah rasa memiliki kita bisa menggunakan berbagai cara bun. Libatkan siswa melalui gurunya. Misalnya guru bahasa Indonesia, anak- anak kita akan membuat puisi bebas. 3 Karya terbaik akan kita tampilkan di Majalah sekolah. 

Kemudian minta kapan rekan-rekan guru untuk mendokumentasikan kegiatan belajar yang aktif dan menyenangkan. Tampilkan di majalah. Anak-anak pasti suka fotonya ada disitu. Dan tentunya dari rasa senang akan timbul rasa memiliki. Harga cetak 11 ribu dan harga jual Rp. 20.000,-

 

Pertanyaan 12:

Saya ibu Umatun Nur Islamiyati Magelang.

Assalamualaikum  wr wb... Bagaimana tips  dan cara agar  bapak ibu guru MI  RA BA punya keinginan untuk menulis dan membuat Majalah sekolah  dan mading?

Maturnuwun.

Membayangkan betapa senangnya guru guru kami di Magelang bisa mendapatkan ilmu dari Ibu Widya dan ibu Emut dan bertemu ibu Widya dan ibu Emut

Jawab:

Waalaikum salam, hay bundaa. Senang juga jika kami bisa berbagi ilmu. Tidak harus tatap muka bun. Kita bisa via zoom. Hubungi moderator saya jika berkenan. 

Cara ampuh yang pertama adalah pressure... 

Bukan tekanan dengan kekerasan ya bun. Campur tangan pimpinan perlu dalam hal ini. 

Misalnya kepala sekolah memberi tugas kepada gurunya untuk mengisi mading. Setiap kelas diberi tanggung jawab untuk merawat, mengisi mading masing-masing. 

Lakukan penilaian mading yang terbaik. Oh ya Bunda di Magelang itu dekat dengan Yogyakarta ya?. 

Bulan Juli bunda kita kopdar disana. Hayuuk datang

 

Pertanyaan 13:

Eka Yulia dari Seruyan.

Assalamualaikum Wr Wb... Neng, mau titip pertanyaan. 

1.      Apakah diawal pembentukan majalah sekolah dulu Bu Widya melakukan sosialisasi terlebih dahulu? Yang melibatkan pihak sekolah serta ortu siswa/komite sekolah. Karena ini ada kaitannya dengan dana.

2.      Bagaimana kiat atau trik dari majalah kharisna untuk meningkatkan minat guru dan siswa menulis? Karena di sekolah saya untuk mading saja susahnya minta ampun. (Promo dan anjuran sudah luar biasa loh, sampai ada reward dari perpustakaan).

Terimakasih.

 

Jawab:

Wa’alaikumsalam Bunda Eka. 

1.      Ya betul, kami membuat proposal dulu. Kita ajukan pada yayasan, kepala sekolah, komite. Setelah itu sosialisasi dengan mereka. Lalu kita sosialisasi dengan orang tua.

2.      Minat itu ibarat air, harus ada kincir angin yang menggerakkan. Butuh motor untuk membuat air itu bergerak. 

Jangan pernah menyerah itu kuncinya bunda...

 

Pertanyaan 14:

Farida, Kabupaten Musi Rawas

Assalamu'alaikum Bunda Widya, perjalanan memulai hingga dapat menerbitkan majalah sekolah yang disampaikan Bu Wid sangat memotivasi saya, karena di sekolah saya belum ada majalah sekolah.  Kalaupun saya berniat mau menerbitkan majalah, saya masih ragu, karena saya tidak mungkin berjalan sendiri.

Pertanyaan saya Bagaimana cara meminta persetujuan kepala sekolah dan minta bantuan rekan guru?. Terima kasih.

Jawab:

Hay Bunda Farida. Jika ibu benar berminat yang pertama tanyakn pada hati ibu. Wahai hati siapkah kita berjuang?. Jika hati sudah kuat mulailah mencari rekan sejiwa, yang betul-betul cinta literasi.

Diskusi dengan kepala sekolah apa visi, misi, dan manfaat majalah. Lanjut tuangkan dalam proposal agar jelas.

 

Pertanyaan 15:

Dewi dari Seruyan Kalimantan Tenggah.

Materi malam ini sangat mengunggah saya untuk bisa mengikuti jejak ibu, dan kebetulan kami baru membentuk komunitas menulis di sekolah saya. Pertanyaan saya Kendala apa aja yang ibu hadapi saat awal merintis pembuatan majalah ini dan kiat menghadapinya, kemudian apa yang harus kita lakukan agar ada daya tarik dari sekitar untuk bisa mendukung kita mewujudkan majalah ini.

Jawab:

Hay bu Dewi ...  Selamat yaa untuk komunitasnya👏👏👏

Masalahnya Sumber Daya Manusia dan SUMBER DANA. Solusinya sebagai berikut:

Niat yang kuat

pantang menyerah

komitmen

doa

Agar berdaya tarik, jadikan majalah kita sebagai magnet. Beritanya bergizi, akurat dan dibutuhkan pembaca.

 

Pertanyaan 16:

Yulis Setyaningsih.

Assalamu'alaikum, ijin bertanya. Bagaimana kita tahu tulisan kita atau majalah kita bisa diterima atau tidak? Maksudnya layak untuk menjadi majalah sekolah.

Jawab:

Wa’alaikumussalam, hay bu Yulis. 

Jadikan siswa dan rekan guru kita sebagai sample pertama. Minta pendapat dari mereka. Insya aallah akan ada banyak masukan untuk menjadi layak.

 

Pertanyaan 17:

Bu Yuni Kabupaten Bekasi

Assalamualaikum, saya Bu Yuni dari kabupaten Bekasi, terima kasih infonya memgispirasi, mau bertanya jika mau membuat majalah online apakah langkah-langkahnya sama dengan majalah offline, baiknya terbit berapa kali dalam setahun jika online, jika majalah yang mau dibuat misal khusus untuk guru PAI bagaimana tipsnya agar diminati dan mau dibeli atau mau berpartisipasi mengisi majalahnya terima kasih

Jawab:

Wa’alaikumusssalam bu Yuni... 

Pada saat pandemi KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dionlinekan (Secara Daring). Akhirnya kami berpikir majalah kami online juga. Langkahnya sama bun. Hanya tidak perlu di cetak. Bisa bentuk pdf kita kirim ke WhatsApp Group kelas, di website sekolah, atau medsos lainnya. Terbit setahun 2 kali, mengingat kita adalah guru dan kesibukan yang tidak sedikit.

Agar diminati berarti harus bermanfaat. Diskusikan pentingnya berbagi ilmu lewat majalah sebagai sarana mencapai ilmu yang bermanfaat. Materi penuh dengan daging.

 

Karena waktu terus beranjank menuju malam. Moderator mempersilahkan narasumber untuk menutup kegiatan, “Monggo bun sepatah dua patah kata untuk closing statement sebelum kita akhiri materi ini”.

Narasumber menyapa kita dengan, “Sahabat penulis, kita tidak akan tahu seberapa besar kemampuan kita sebelum kita mencoba menghadapi kesulitan. Tuangkan rasa cinta pada lembaga kita dengan membuat sekolah kita popular dengan hadirnya majalah sekolah. Teruslah berjuang... Akan ada tangan-tangan orang baik yang akan menguatkan langkah kita...

Terima kasih tazah, sahabatku telah membersamaiku selama dua jam ini. Semoga keberkahan selalu menaungi hidupmu. Tetaplah menjadi sinar yang selalu menghangatkan gigilku. Menjadi tenang yang meredangkan gelisahku. Sahabat literasi nusantara, terimakasih atas kebersamaannya malam ini. Sungguh suatu kebahagiaan bagi saya, bisa kembali belajar bersama di kelas ini. 

 

Mohon maaf jika dalam penyampaian materi dan diskusi ada ketidakpuasan atas jawaban yang saya beri. No body perfect, begitu pula dengan saya pribadi. Jika membutuhkan bantuan saya dalam mengelola majalah sekolah, monggo bisa menghubungi saya secara pribadi di WhatsApp saya. Dengan senang hati akan saya bantu sepenuh hati. Saya pamit undur diri, “Santen peresane klopo, cekap semanten lan nyuwun ngapuro.

Wassalamualaikum wr. wb....

See you next time.

            Moderator menjawab dengan “Aamiin”. Dan melanjutkan menyapa peserta, “Demikian materi kita malam ini yang sangat luar biasa. Genggam semua ilmu yang telah didapat selama ini. Untuk menjadi bekal berkarya demi keabadian diri. Jangan lupa karya solo selalu dinanti. Mohon maaf jika selama membersamai sahabat saya mempunyai kekurangan dan kesalahan. Uluran maaf setulus hati, bagi kesalahan yang mungkin tak sengaja melukai. Mari bergandengan tangan untuk menyemarakkan literasi di negeri tercinta. Bersama kita pasti bisa menebar warna indah dalam goresan karya. ”Selamat malam, sampai berjumpa lagi. Izinkan saya undur diri. Sukses dan terus semangat menyebarkan virus kebaikan dan kebahagiaan. Wassalamualaikum wr wb. 

See you next time, sobat👋🏻👋🏻👋🏻

 

 

Referensi:

1.      https://charis81.blogspot.com/2023/02/kiat-sukses-mengelola-majalah-sekolah.html

2.      https://marlinarahman84.blogspot.com/2023/02/mari-belajar-mengelola-majalah-sekolah.html?sc=1675478614168#c3832702799455500644

3.      Siaran TVRI NTT, hari Rabu, tanggal 25 Januari 2023: https://web.facebook.com/lilis.sutikno.779/posts/pfbid02he4oVgXjMPFqAjTCeqxQ5kEvVmwThaYMjpTWLVv5DTgZZovRRqwezQy3stGgYiTkl

4.      Siaran TVRI NTT, hari Sabtu, tanggal 28 Januari 2013: https://web.facebook.com/lilis.sutikno.779/posts/pfbid02vhskDEGy9dzGqVyDBcsvvtfooniKSwGSQB5iUMfR3B9q3N45ddzEoyngofeefJn3l

5.      https://www.youtube.com/watch?v=-PhOrnDqA0Y (YouTube)

6.      https://drive.google.com/file/d/1uQwkmI_RWpbeeas9XP-ep9nxMIekCo5d/view?fbclid=IwAR2OMyblgb8xY9IYqlKO_SGOcLn0BYJLcNsVUpkZU0azfy8eH21LJuRKm-g (Google Drive)





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUAMI DAN KERIDHOANNYA (K.H. Maimun Zubair)

KATA SAMBUTAN ANTOLOGI CERPEN

PROFIL IBU GURU CANTIK